Linda anak Tante Maya

Cerita panas. Aku memang terlahir dari keluarga yang cukup berada. Aku anak lelaki
satu-satuya. Dan juga anak bungsu. Dua kakakku perempuan semuanya.
Dan jarak usia antara kami cukup jauh juga. Antara lima dan enam
tahun. Karena anak bungsu dan juga satu-satunya lelaki, jelas sekali
kalau aku sangat dimanja. Apa saja yang aku inginkan, pasti
dikabulkan. Seluruh kasih sayang tertumpah padaku.tapi disinilah awal mula cerita seks ku terjadi.

Sejak kecil aku selalu dimanja, sehingga sampai besarpun aku
terkadang masih suka minta dikeloni. Aku suka kalau tidur sambil
memeluk Ibu, Mbak Lisa atau Mbak Indri. Tapi aku tidak suka kalau
dikeloni Ayah. Entah kenapa, mungkin tubuh Ayah besar dan tangannya
ditumbuhi rambut-rambut halus yang cukup lebat. Padahal Ayah paling
sayang padaku. Karena apapun yang aku ingin minta, selalu saja
diberikan. Aku memang tumbuh menjadi anak yang manja. Dan sikapku
juga terus seperti anak balita, walau usiaku sudah cukup dewasa.

Pernah aku menangis semalaman dan mengurung diri di dalam kamar
hanya karena Mbak Indri menikah. Aku tidak rela Mbak Indri jadi
milik orang lain. Aku benci dengan suaminya. Aku benci dengan semua
orang yang bahagia melihat Mbak Indri diambil orang lain. Setengah
mati Ayah dan Ibu membujuk serta menghiburku. Bahkan Mbak Indri
menjanjikan macam-macam agar aku tidak terus menangis. Memang
tingkahku tidak ubahnya seorang anak balita.

Tangisanku baru berhenti setelah Ayah berjanji akan membelikanku
motor. Padahal aku sudab punya mobil. Tapi memang sudah lama aku
ingin dibelikan motor. Hanya saja Ayah belum bisa membelikannya.
Kalau mengingat kejadian itu memang menggelikan sekali. Bahkan aku
sampai tertawa sendiri. Habis lucu sih…, Soalnya waktu Mbak Indri
menikah, umurku sudab dua puluh satu tahun.

Hampir lupa, Saat ini aku masih kuliah. Dan kebetulan sekali aku
kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta yang cukup keren. Di
kampus, sebenarnya ada seorang gadis yang perhatiannya padaku begitu
besar sekali. Tapi aku sama sekali tidak tertarik padanya. Dan aku
selalu menganggapnya sebagai teman biasa saja. Padahal banyak
teman-temanku, terutama yang cowok bilang kalau gadis itu menaruh
hati padaku.

Sebut saja namanya Linda. Punya wajab cantik, kulit yang putih
seperti kapas, tubuh yang ramping dan padat berisi serta dada yang
membusung dengan ukuran cukup besar. Sebenarnya banyak cowok yang
menaruh hati dan mengharapkan cintanya. Tapi Linda malah menaruh
hati padaku. Sedangkan aku sendiri sama sekali tidak peduli, tetap
menganggapnya hanya teman biasa saja. Tapi Linda tampaknya juga
tidak peduli. Perhatiannya padaku malah semakin bertambah besar
saja. Bahkan dia sering main ke rumahku, Ayah dan Ibu juga senang
dan berharap Linda bisa jadi kekasihku.

Begitu juga dengan Mbak Lisa, sangat cocok sekali dengan Linda Tapi
aku tetap tidak tertarik padanya. Apalagi sampai jatuh cinta.
Anehnya, hampir semua teman mengatakan kalau aku sudah pacaran
dengan Linda, Padahal aku merasa tidak pernah pacaran dengannya.
Hubunganku dengan Linda memang akrab sekali, walaupun tidak bisa
dikatakan berpacaran.

Seperti biasanya, setiap hari Sabtu sore aku selalu mengajak Bobby,
****** pudel kesayanganku jalan-jalan mengelilingi Monas. Perlu
diketahui, aku memperoleh ****** itu dan Mas Herman, suaminya Mbak
Indri. Karena pemberiannya itu aku jadi menyukai Mas Herman. Padahal
tadinya aku benci sekali, karena menganggap Mas Herman telah merebut
Mbak Indri dan sisiku. Aku memang mudah sekali disogok. Apalagi oleh
sesuatu yang aku sukai. Karena sikap dan tingkah laku sehari-hariku
masih, dan aku belum bisa bersikap atau berpikir secara dewasa.

Tanpa diduga sama sekali, aku bertemu dengan Linda. Tapi dia tidak
sendiri. Linda bersama Mamanya yang usianya mungkin sebaya dengan
Ibuku. Aku tidak canggung lagi, karena memang sudah saling mengenal.
Dan aku selalu memanggilnya Tante Maya.
“Bagus sekali ******nya..”, piji Tante Maya.
“Iya, Tante. diberi sama Mas Herman”, sahutku bangga.
“Siapa namanya?” tanya Tante Maya lagi.
“Bobby”, sahutku tetap dengan nada bangga.

Tante Maya meminjamnya sebentar untuk berjalan-jalan. Karena
terus-menerus memuji dan membuatku bangga, dengan hati dipenuhi
kebanggaan aku meminjaminya. Sementara Tante Maya pergi membawa
Bobby, aku dan Linda duduk di bangku taman dekat patung Pangeran
Diponegoro yang menunggang kuda dengan gagah. Tidak banyak yang kami
obrolkan, karena Tante Maya sudah kembali lagi dan memberikan Bobby
padaku sambil terus-menerus memuji. Membuat dadaku jadi berbunga dan
padat seperti mau meledak. Aku memang paling suka kalau dipuji.
Oh, ya…, Nanti malam kamu datang…”, ujar Tante Maya sebelum
pergi.
“Ke rumah…?”, tanyaku memastikan.
“Iya.”
“Memangnya ada apa?” tanyaku lagi.
“Linda ulang tahun. Tapi nggak mau dirayakan. Katanya cuma mau
merayakannya sama kamu”, kata Tante Maya Iangsung memberitahu.
“Kok Linda nggak bilang sih…?”, aku mendengus sambil menatap Linda
yang jadi memerah wajahnya. Linda hanya diam saja.
“Jangan lupa jam tujuh malam, ya..” kata Tante Maya mengingatkan.
“Iya, Tante”, sahutku.

Dan memang tepat jam tujuh malam aku datang ke rumah Linda.
Suasananya sepi-sepi saja. Tidak terlihat ada pesta. Tapi aku
disambut Linda yang memakai baju seperti mau pergi ke pesta saja.
Tante Maya dan Oom Joko juga berpakaian seperti mau pesta. Tapi
tidak terlihat ada seorangpun tamu di rumah ini kecuali aku sendiri.
Dan memang benar, ternyata Linda berulang tahun malam ini. Dan hanya
kami berempat saja yang merayakannya.

Perlu diketahui kalau Linda adalah anak tunggal di dalam keluarga
ini. Tapi Linda tidak manja dan bisa mandiri. Acara ulang tahunnya
biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Selesai makan malam,
Linda membawaku ke balkon rumahnya yang menghadap langsung ke
halaman belakang.

Entah disengaja atau tidak, Linda membiarkan sebelah pahanya
tersingkap. Tapi aku tidak peduli dengan paha yang indah padat dan
putih terbuka cukup lebar itu. Bahkan aku tetap tidak peduli
meskipun Linda menggeser duduknya hingga hampir merapat denganku.
Keharuman yang tersebar dari tubuhnya tidak membuatku bergeming.

Linda mengambil tanganku dan menggenggamnya. Bahkan dia
meremas-remas jari tanganku. Tapi aku diam saja, malah menatap
wajahnya yang cantik dan begitu dekat sekali dengan wajahku. Begitu
dekatnya sehingga aku bisa merasakan kehangatan hembusan napasnya
menerpa kulit wajahku. Tapi tetap saja aku tidak merasakan sesuatu.

Dan tiba-tiba saja Linda mencium bibirku. Sesaat aku tersentak
kaget, tidak menyangka kalau Linda akan seberani itu. Aku menatapnya
dengan tajam. Tapi Linda malah membalasnya dengan sinar mata yang
saat itu sangat sulit ku artikan.
“Kenapa kau menciumku..?” tanyaku polos.
“Aku mencintaimu”, sahut Linda agak ditekan nada suaranya.
“Cinta…?” aku mendesis tidak mengerti.

Entah kenapa Linda tersenyum. Dia menarik tanganku dan menaruh di
atas pahanya yang tersingkap Cukup lebar. Meskipun malam itu Linda
mengenakan rok yang panjang, tapi belahannya hampir sampai ke
pinggul. Sehingga pahanya jadi terbuka cukup lebar. Aku merasakan
betapa halusnya kulit paha gadis ini. Tapi sama sekali aku tidak
merasakan apa-apa. Dan sikapku tetap dingin meskipun Linda sudah
melingkarkan tangannya ke leherku. Semakin dekat saja jarak wajah
kami. Bahkan tubuhku dengan tubuh Linda sudah hampir tidak ada jarak
lagi. Kembali Linda mencium bibirku. Kali ini bukan hanya mengecup,
tapi dia melumat dan mengulumnya dengan penuhl gairah. Sedangkan aku
tetap diam, tidak memberikan reaksi apa-apa. Linda melepaskan
pagutannya dan menatapku, Seakan tidak percaya kalau aku sama sekali
tidak bisa apa-apa.
“Kenapa diam saja…?” tanya Linda merasa kecewa atau menyesal
karena telah mencintai laki-laki sepertiku.

Tapi tidak…, Linda tidak menampakkan kekecewaan atau penyesalan
Justru dia mengembangkan senyuman yang begitu indah dan manis
sekali. Dia masih melingkarkan tangannya ke leherku. Bahkan dia
menekan dadanya yang membusung padat ke dadaku. Terasa padat dan
kenyal dadanya. Seperti ada denyutan yang hangat. Tapi aku tidak
tahu dan sama sekali tidak merasakan apa-apa meskipun Linda menekan
dadanya cukup kuat ke dadaku. Seakan Linda berusaha untuk
membangkitkan gairah kejantananku. Tapi sama Sekali aku tidak bisa
apa-apa. Bahkan dia menekan dadanya yang membusung padat ke dadaku.
“Memangnya aku harus bagaimana?” aku malah balik bertanya.
“Ohh…”, Linda mengeluh panjang.

Dia seakan baru benar-benar menyadari kalau aku bukan hanya tidak
pernah pacaran, tapi masih sangat polos sekali. Linda kembali
mencium dan melumat bibirku. Tapi sebelumnya dia memberitahu kalau
aku harus membalasnya dengan cara-cara yang tidak pantas untuk
disebutkan. Aku coba untuk menuruti keinginannya tanpa ada perasaan
apa-apa.
“Ke kamarku, yuk…”, bisik Linda mengajak.
“Mau apa ke kamar?”, tanyaku tidak mengerti.
“Sudah jangan banyak tanya. Ayo..”, ajak Linda setengah memaksa.
“Tapi apa nanti Mama dan Papa kamu tidak marah, Lin?”, tanyaku masih
tetap tidak mengerti keinginannya.

Linda tidak menyahuti, malah berdiri dan menarik tanganku. Memang
aku seperti anak kecil, menurut saja dibawa ke dalam kamar gadis
ini. Bahkan aku tidak protes ketika Linda mengunci pintu kamar dan
melepaskan bajuku. Bukan hanya itu saja, dia juga melepaskan
celanaku hingga yang tersisa tinggal sepotong celana dalam saja
Sedikitpun aku tidak merasa malu, karena sudah biasa aku hanya
memakai celana dalam saja kalau di rumah. Linda memandangi tubuhku
dan kepala sampai ke kaki. Dia tersenyum-senyum. Tapi aku tidak tahu
apa arti semuanya itu. Lalu dia menuntun dan membawanya ke
pembaringan. Linda mulai menciumi wajah dan leherku. Terasa begitu
hangat sekali hembusan napasnya.
“Linda..”

Aku tersentak ketika Linda melucuti pakaiannya sendiri, hingga hanya
pakaian dalam saja yang tersisa melekat di tubuhnya. Kedua bola
mataku sampai membeliak lebar. Untuk pertama kalinya, aku melihat
sosok tubuh sempurna seorang wanita dalam keadaan tanpa busana.
Entah kenapa, tiba-tiba saja dadaku berdebar menggemuruh Dan ada
suatu perasaan aneh yang tiba-tiba saja menyelinap di dalam hatiku.

Sesuatu yang sama sekali aku tidak tahu apa namanya, Bahkan seumur
hidup, belum pernah merasakannya. Debaran di dalam dadaku semakin
keras dan menggemuruh saat Linda memeluk dan menciumi wajah serta
leherku. Kehangatan tubuhnya begitu terasa sekali. Dan aku menurut
saja saat dimintanya berbaring. Linda ikut berbaring di sampingku.
Jari-jari tangannya menjalar menjelajahi sekujur tubuhku. Dan dia
tidak berhenti menciumi bibir, wajah, leher serta dadaku yang bidang
dan sedikit berbulu.

Tergesa-gesa Linda melepaskan penutup terakhir yang melekat di
tubuhnya. sehingga tidak ada selembar benangpun yang masih melekat
di sana. Saat itu pandangan mataku jadi nanar dan berkunang-kunang.
Bahkan kepalaku terasa pening dan berdenyut menatap tubuh yang polos
dan indah itu. Begitu rapat sekali tubuhnya ke tubuhku, sehingga aku
bisa merasakan kehangatan dan kehalusan kulitnya. Tapi aku masih
tetap diam, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Linda mengambil
tanganku dan menaruh di dadanya yang membusung padat dan kenyal.

Dia membisikkan sesuatu, tapi aku tidak mengerti dengan
permintaannya. Sabar sekali dia menuntun jari-jari tanganku untuk
meremas dan memainkan bagian atas dadanya yang berwarna coklat
kemerahan. Tiba-tiba saja Linda. menjambak rambutku, dan membenamkan
Wajahku ke dadanya. Tentu saja aku jadi gelagapan karena tidak bisa
bernapas. Aku ingin mengangkatnya, tapi Linda malah menekan dan
terus membenamkan wajahku ke tengah dadanya. Saat itu aku merasakan
sebelah tangan Linda menjalar ke bagian bawah perutku.
“Okh…?!”.
Aku tersentak kaget setengah mati, ketika tiba-tiba merasakan
jari-jari tangan Limda menyusup masuk ke balik celana dalamku yang
tipis, dan..
“Linda, apa yang kau lakukan…?” tanyaku tidak mengerti, sambil
mengangkat wajahku dari dadanya.

Linda tidak menjawab. Dia malah tersenyum. Sementara perasaan hatiku
semakin tidak menentu. Dan aku merasakan kalau bagian tubuhku yang
vital menjadi tegang, keras dan berdenyut serasa hendak meledak.
Sedangkan Linda malah menggenggam dan meremas-remas, membuatku
mendesis dan merintih dengan berbagai macam perasaan berkecamuk
menjadi satu. Tapi aku hanya diam saja, tidak tahu apa yang harus
kulakukan. Linda kembali menghujani wajah, leher dan dadaku yang
sedikit berbulu dengan ciuman-ciumannya yang hangat dan penuh gairah
membara.

Memang Linda begitu aktif sekali, berusaha membangkitkan gairahku
dengan berbagai macam cara. Berulang kali dia menuntun tanganku ke
dadanya yang kini sudan polos.
“Ayo dong, jangan diam saja…”, bisik Linda disela-sela tarikan
napasnya yang memburu.
“Aku…, Apa yang harus kulakukan?” tanyaku tidak mengerti.
“Cium dan peluk aku…”, bisik Linda.

Aku berusaha untuk menuruti semua keinginannya. Tapi nampaknya Linda
masih belum puas. Dan dia semakin aktif merangsang gairahku.
Sementara bagian bawah tubuhku semakin menegang serta berdenyut.

Entah berapa kali dia membisikkan kata di telingaku dengan suara
tertahan akibat hembusan napasnya yang memburu seperti lokomotif
tua. Tapi aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang d
ibisikkannya. Waktu itu aku benar-benar bodoh dan tidak tahu
apa-apa. Walau sudah berusaha melakukan apa saja yaang dimintanya.

Sementara itu Linda sudah menjepit pinggangku dengan sepasang
pahanya yang putih mulus. Linda berada tepat di atas tubuhku,
sehingga aku bisa melihat seluruh lekuk tubuhnya dengan jelas sekali.

Entah kenapa tiba-tiba sekujur tubuhku menggelelar ketika kontolku
tiba-tiba menyentuh sesuatu yang lembab, hangat, dan agak basah.
Namun tiba-tiba saja Linda memekik, dan menatap bagian penisku.
Seakan-akan dia tidak percaya dengan apa yang ada di depan matanya.
Sedangkan aku sama sekali tidak mengerti. PadahaI waktu itu Linda
sudah dipengaruhi gejolak membara dengan tubuh polos tanpa sehelai
benangpun menempel di tubuhnya.
“Kau…”, desis Linda terputus suaranya.
“Ada apa, Lin?” tanyaku polos.

“Ohh…”, Linda mengeluhh panjang sambil menggelimpangkan tubuhnya
ke samping. Bahkan dia langsung turun dari pembaringan, dan
menyambar pakaiannya yang berserakan di lantai. Sambil memandangiku
yang masih terbaring dalam keaadaan polos, Linda mengenakan lagi
pakaiannya. Waktu itu aku melihat ada kekecewaan tersirat di dalam
sorot matanya. Tapi aku tidak tahu apa yang membuatnya kecewa.
“Ada apa, Lin?”, tanyaku tidak mengerti perubahan sikapnya yang
begitu tiba-tiba.
“Tidak…, tidak ada apa-apa, sahut Linda sambil merapihkan
pakaiannya.

Aku bangkit dan duduk di sisi pembaringan. Memandangi Linda yang
sudah rapi berpakaian. Aku memang tidak mengerti dengan
kekecewannya. Linda memang pantas kecewa, karena alat kejantananku
mendadak saja layu. Padahal tadi Linda sudah hampir membawaku
mendaki ke puncak kenikmatan, sampai disini cerita panas ku,

Selesai
Cerita Panas

JAIM giat kursus tingkat kesedaran

JAIM giat kursus tingkat kesedaran

MELAKA Jabatan Agama Islam Melaka (JAIM) akan mempergiatkan program ceramah dan kursus agama terhadap pasangan Islam yang ditahan kerana melakukan kesalahan syariah.Ketua Penguatkuasa Bahagian Agama JAIM, Rahimin Bani berkata, usaha itu selain untuk memberi kesedaran kepada umat Islam yang ditahan atas kesalahan tersebut, ia juga menekankan soal kesan gejala sosial yang mungkin timbul daripada perbuatan tersebut.
Menurutnya, menerusi usaha itu, pelbagai aspek akan diberi penekanan terutama soal undang-undang syariah kepada mereka yang ditahan kerana melakukan kesalahan syariah.
”Ceramah yang diadakan tidak semata-mata bertujuan untuk memberi tekanan mental kepada umat Islam yang ditahan kerana melakukan kesalahan syariah tetapi hasrat utama JAIM ialah untuk mendidik dan mahu pesalah menginsafi kesalahan yang dilakukan,” katanya ketika dihubungi di sini, hari ini.
Selain itu, penganjuran program itu ialah untuk memberi motivasi kepada peserta bagi membolehkan mereka melakukan perubahan ke arah meningkatkan status kehidupan masing- masing kelak.
Katanya, dalam program terbaru anjuran JAIM yang diadakan kelmarin, seramai 110 pasangan Islam yang ditahan dalam beberapa siri operasi khalwat yang dijalankan sepanjang Mei lalu.
Katanya, program tersebut iaitu Kesedaran dan Kefahaman Islam diadakan di pejabat JAIM di Jalan Kee Ann, di sini.
”Selain kefahaman dan motivasi, tujuan kursus itu diadakan ialah untuk memberikan kesedaran kepada para peserta mengenai hak-hak mereka semasa perbicaraan.
”Antara pengisian kursus termasuk nasihat, kaunseling serta ceramah dan Latihan Dalam Kumpulan (LDK),” katanya.
Katanya, antara kesalahan yang dilakukan oleh kebanyakan peserta kursus seperti itu ialah bersekeduduk, berjudi, hamil luar nikah dan perbuatan tidak sopan di khalayak ramai.
Pada masa yang sama, Rahimin menasihatkan remaja Islam supaya tidak melakukan perkara yang dilarang agama kerana ia akan merosakkan diri mereka sendiri.
Cerita Dewasa

Anak Bos Aku

Pada suatu hari waktu itu nadia tidak kesekolah kerana terjatuh dari basikal yg mengakibatkan kakinya luka sedikit. Dan hari itu juga nasib aku amat baik kerana ayah dan ibunya telah ke KL bagi urusan perkahwinan salah seorang ahli keluarganya dan juga pada hari itu kedua org gajinya balik ke kampung. Maka tinggalah aku dan nadia sahaja dirumah.

Peluang ini tidak aku biarkan berlalu, dibenak kepala aku anak raja ini mesti aku dapat hari ini. Berputar putar kepala aku mencari idea bagaimana menarik nadia utk bersembang dengan aku. Akhirnya aku mendapat satu idea kononya aku hendak melihat luka dikakinya.

Nadia yang pada ketika itu hanya memakai baju tidur berwarna putih yg jelas menampakan seluar dalam serta bentuk tubuh badannya jika di sinari oleh cahaya matahari pagi. Aku memanggil nadia dan kataku aku nak melihat luka dikakinya. Nadia tidak banyak bersoal dan terus dihulurkan kakinya kepada aku. Tanpa banyak bicara aku memegang kaki nadia sambil mengurut ngurut bahagian tapak kakinya. Dan aku berpura pura mengatakan kesian dan macam macam lagi utk menyakinkan dia yg aku ini baik terhadapnya.

Mula mula aku urut sambill menggaru tapak kakinya bagi menimbulkan kegelian dan memang benar dia kegelian tapi masih tidak berganjak dari aku, terus aku mengusap betisnya dan aku hingga sampai ke peha. Dia tersentak dan mengatakan yg dia hanya sakit di kaki sahaja tapi aku beritau dia yg mungkin bhg peha dia juga akan sakit jika tidak di gosok.

Setelah dia yakin dengan kata kata aku tadi maka aku teruskan mengusap peha nya dan sekali sekali aku sentuh kemaluanya dan sengaja juga aku jolokan jari aku ke lubang juburnya. Walaupun pada ketika itu dia memakai seuar dalam. Aku melihat dia merasa sesuatu kelainan dan kemungkinan dia juga ingin tau apa yg aku nak lakukan terhadap dirinya.

Batang aku tamat keras sekali ketika itu, lalu aku katakan kpd nadia dia perlu membuka baju dan seluar dlm nya kerana kalau tidak luka nya tadi akan merebak ke badan. Dipendekan cerita setelah hampir 2 jam aku memujuknya maka diapun mengikut apa yg aku katakana. Maka terserlahlah dihadapan aku sekujur tubuh anak gadis sunti berusia 10 tahun dalam keadaan berbogel.

Teteknya yg hanya sebesar duri kekabu itu ku usap perlahan lahan dan sambil itu ku gosok juga pantatnya yg tidak ada seurat pun bulu. Dia diam sahaja tapi aku tau dia suka. Pendek kata apa sahaja yg aku lakukan dia hanya diam. Aku pun menyuruh dia meniarap sambil mengangkat sedikit punggung nya, apa lagi terus ke hulurkan lidah aku masuk ke lubang juburnya, aku jilat juburnya sahaja selama 10 minit sambil menggetel kelentit nya. Pada ketika itu aku melihat kakinya bergerak gerak tanda kegelian lalu aku Tanya kepadanya sedapke apa yg aku lakukan ini, dia hanya menggangguk tanda bersetuju.

Selepas menjilat juburnya aku menyuruh dia terlentang sambil aku ambilkan kusyen utuk mengalas tubuhnya, nah pada ketika itu aku dapat melihat sepenuhnya lubang pantat nadia yg begitu indah sekali dan kemerahan. Aku terus menjilat sambil tangan aku menjolok masuk ke lubang juburnya, dia dia tapi seronok aku rasa.

Setelah aku benar benar pasti maka kutanyakan kepadanya bolehtak aku membuka seluar aku, dia diam.. Aku terus membuka seuarku dan tertegaklah batang aku sambil kutunjukan kepadanya. Aku katakana yg aku akan masukan batang aku ini ke juburnya, kali ini dia mengganguk.. Tanpa berlengah kutusukan btg aku ke lubang nikmat itu tetapi hanya kepala takuk aku sahaja yg masuk, walaubagaimanapun aku dapat rasa kemutan lubang nikmata anak raja ini.

Oleh kerana aku terlampau stim air mani aku keluar dengan cepatnya menembusi masuk ke jubur nadia. Tewas aku kali ini dengan gadis 10 tahun yang aku rasa masih mau adingan ini dipanjangkan. Aku beritau nadia nanti sekeja lagi aku akan buat lagi benda ini dia menganguk dan jelas aku lihat dia mengaharapkan peristiwa yg tak pernah dialaminya itu berulang sebentar lagi. Aku menyuruh nadia masuk ke biliknya dan mandi kerana kataku aku akan keluar utk mengambil ABG dan adiknya disekolah.
Jam 4 Petang

Seperti biasa ketiga tiga anak raja ini akan kesekolah semula dan pada ketika itu org gajinya yang baru balik sedang sibuk mengemas di dapur dan aku duduk di meja sambil minum dan berborak dengan makcik yang aku panggil mak jah. Sementara anak org gaji itu tidur mungkin keletihan.

Apa yang aku sangkakan pagi tadi memang benar, aku melihat nadia keluar masuk dapur dan sekali sekali memandang kearah aku dia seolah olah cuba memberitau aku yang dia menunggu aku.

Spontan batang aku segar semula, oleh kerana aku biasa dengan keluarga di raja ini maka kebebasan aku didlm rumah juga tidak terhad, dengan berpura pura utk menonton TV aku kini telah berada di ruang tamu rumah tersebut, jaraknya dari dapur tidaklah jauh tetapi ruang makan yang besar telah memisahkan mak jah dengan aku, ertinya diatak akan dengar apa yg berlaku di ruang tamu, dan kebiasaanya mak jah tak akan ke ruang tamu ini sekiranya tidak ada keperluan dan mak jah juga akan tidur selepas mengemas.

Nadia duduk diatas sopa dan kali ini dia memakai seluar blouse berwarna coklat. Aku terus duduk disebelahnya sambil tangan aku mengusap telinga nya. Dia diam, aku suruh dia berbaring di sofa dan aku meriba kaki nadia, kuusap dan ku cium kakinya sambil menjilat serta menyedut ibu jari kaki nadia. M

Ahhhhh…uuhhhhhhhhhhhhhh…sedap sayang…..

emang dia memang bersedia jerana kali ini aku lihat dia tidak memakai seluar dalam, aku mulakan dengan menjolok jolok lubang juburnya kerana aku tau nafsu dia datang dari situ, setelah beberapa minit aku suruh nadia berdiri dan menonggeng dihadapan aku maka kali ini kedua dua lubang nadia tersembul di hadapan mata aku.

Aku jilat aku hisap dan aku sedut pantat dan lubang juburnya, dan kali ini aku tidak lagi teragak agak utk menjilat kelentit kecil anak raja ini. Nadia merintih kecil sambil menolak pantatnya ke mulut aku. Reaksi ini membuatkan aku lebih tercabar, ertinya anak raja yg berumur 10 tahun ini sedang dilamun nikmat yang amat sangat.

Aku terus membuka zip seluar aku dan mengeluarkan batang aku, sambil menyuruh nadia berpusing dan duduk untuk mengulum batang aku, nadia tidak membantah sambil membuka mulutnya menati batang aku menerjah masuk. Selepas batang aku beremdam didalam mulutnya utk beberapa ketika aku menyuruh nadia berdiri semula, dan aku mengucup bibirnya yang penuh dengan air mazi aku, nadia membiarkan sahaja apa yang aku lakukan dan ini membuatkan aku benar benar selesa.

Ku kulum lidahnya, mencium pipi dan menggigit manja hidung nya sambil tangan aku mengorek pantat nadia yang telah ada sedikit air. Aku mengangkat nadia untuk duduk diatas ribaan ku, dengan keadaan terkangkang diatas ribaan aku pantat nadia terbuka sedikit, dan ini menyenangkan aku untuk memasukan batang aku ke dasarnya. Yang pasti hampir separuh btg aku berada didalam pantat anak raja ini, aku dapat melihat bagaimana dia mengetap bibirnya tanda sakit, aku lantas mencium manja mulutnya danbertanyakan adakah dia merasakan kesakitan itu, dia mengganguk, aku katakana adakah dia suka atau mau aku berhenti dan kali ini dia membuka suaranya dengan mengatakan jangan berhenti.

Ahahhaahhahhahh…uhuuhhhuuhhuhuhh…ahahahahah…terus say…uhhhh…sedap say…

Tetapi posisi sebegini tidak aku gemari kerana bimbang pantat nadia mungkin akan pecah lalu aku menyuruh dia menonggeng semula. Hampir setengah jam aku menghayun pantat nadia dengan seluruh batang aku telah menembusi dasar pantatnya, berulang kali ku dengar nadia merintih kesedapan walaupun nikmat itu masih belum dia ketahui sebenarnya, aku klimaks sekali lagi. Nadia pula kelihatan sedikit pucat kerana keletihan menonggeng tadi ataupun kesakitan di pantatnya.

Setelah selesai adingan tadi akupun menyuruh nadia mandi dan membersihkan sedikit darah yang mengalir dan aku mengemaskan semula diri aku untuk pergi meninggalkan sebuah kisah yang amat aku ingati dalam hidup aku ini.

*****

Peristiwa ini berulang hampir setiap hari yang setelah nadia membuat keputusan untuk tidak lagi ke sekolah pada waktu petang dengan alasan dia tidak berminat utk bersukan lagi. Dan nadia telah menjadi tempat aku melepaskan nafsu aku selama hampir 9 bulan sebelum aku berpindah semula ke kuala Lumpur. Kini dia berusia 20 tahun dan aku 38 tahun, namum aktiviti aku membelasah pantat budak semakin menjadi jad

Cerita Lucah

Ayu (Mute Love)

 Hai. tgh wat pe. Dr td tak keluar cubical. Sibuk ke?

Tadi sibuk sikit. Sekarang dah free.

Ayu nak tanya sikit boleh?

Apa dia?

Zin dah ada gf?

tak ader. Naper?

saja tanya. Balik nanti naik bas ke?

Ye.

Ayu hantar Zin balik nak tak?

Boleh tapi saya malu larr..

Nape nak malu? Ayu hantar Zin balik ye.

ok.. mmm.. nanti boleh saya buat lagi? 😉

hii.. tak malu ye 😛

tanye jer.. :)

ok, jap lagi dah time balik. Ayu tunggu kat lif.

Ok.. :)

Dengan tidak sabar, aku terus kemas meja kerja aku. Bekas bekal aku masukkan dalam beg dan terus keluar dari cubical menuju ke pintu keluar.

“Hai Zin. Awalnya kau keluar hari ni. Lagi 2 minit lah. ” sergah kak Milah reception.

“Eh, ye ke kak? Oh, saya lupa jam saya tercepat. Tak apa lah, saya tunggu kat sini je lah.” aku pun terus duduk di sofa sambil menunggu waktu punch card tiba.

Sedang aku duduk membaca akhbar, jam punch card pun berbunyi menandakan masa balik dah tiba. Ketika itulah aku terlihat Ayu berjalan dengan lenggoknya menuju ke mesin punch card. Kemudian dia terus keluar dan sambil itu dia sempat menjeling ke arah ku dan melemparkan senyuman. Aku terus bangun dan punch card kad kedatangan lalu terus keluar menuju ke lif.

Di lobby lif, aku lihat Ayu sedang menunggu ku. Setelah dia sedar kelibat ku, terus sahaja jarinya memicit butang lif untuk turun.

“Nampaknya kita orang terawal balik hari ni.” kata Ayu kepada ku.

“Hmm.. Ayu parking kereta kat mana? ” tanya ku.

“Kat B2. Kat situ tak ramai staff kita parking. Lagi pun kebanyakkan orang yang parking kat situ balik pukul 5.30 nanti.” Ayu menerangkan kepadaku.

“Ohh i see…” jawab ku.

Lif pun tiba dan membawa kami terus turun ke tingkat B2. Aku menuruti Ayu berjalan ke arah keretanya. Sambil berjalan, aku perhatikan punggungnya yang membonjol dan melenggok di setiap langkahnya. Memang bulat dan tonggek bontot minah ni. Geram je aku masa tu.

Ayu membawa aku ke keretanya. Kereta kancilnya di letakkan di bucu sudut parking kenderaan. Keadaan di situ agak gelap. Hanya kesamaran cahaya dari lampu kalimantang yang menerangi petak di hadapan memberikan sedikit sinar. Ketika kami tiba di keretanya, aku lantas menepuk punggung Ayu. Punggungnya bergegar dan berayun akibat dari tamparan manja tanganku. Ayu berdiri seketika sambil tersenyum memerhatikan ku yang sedang menuju ke pintu sebelah pemandu.

“Dah tak sabar ye?” tanya Ayu lembut sambil tersenyum memerhatikan ku.

“Hehe.. kalau boleh sekarang jugak saya nak.. ” kata ku sambil tersengih bak kerang busuk.

Ayu terus berjalan perlahan-lahan menuju ke arah ku. Sesekali dia melihat sekeliling dan kemudian tersenyum memandang ku kembali. Ayu akhirnya berdiri di hadapan ku. Sambil tersenyum dia merenung jauh mata ku. Bagaikan magnet, kami berdua seolah tertarik antara satu sama lain. Kami berkucupan dan berpelukan bagaikan sepasang kekasih. Ayu kelihatan hanyut dalam pelukan ku. Tangan ku mengambil kesempatan meraba seluruh pelusuk tubuh Ayu. Ternyata dia merelakan. Punggungnya ku ramas geram, sekaligus mencetuskan berahi ku. Batang ku yang semakin keras dan berkembang di dalam seluar slack semakin aku tekan rapat ke perutnya. Pelukan Ayu juga semakin kuat dan rapat. Begitu juga dengan kucupannya yang semakin memberahikan dan membuatnya tidak sedar bahawa air liurnya sudah berciciran di dagu kami berdua.

Kemudian Ayu melepaskan kucupan. Dia mengelap bibirnya yang basah dengan hujung lengan blouse yang dipakainya. Kemudian, dengan keadaan yang serba tak kena, dia terus memalingkan tubuhnya. Ketika itu, aku tahu apa yang bermain di fikirannya. Mungkin secara tiba-tiba perasaannya bertukar dari berahi kepada malu dan mungkin juga dia akan mengubah fikiran. Jadi, sebelum dia melangkah jauh dari aku, cepat-cepat aku sambar tangan dia dan aku tarik tubuh dia supaya rapat kepada ku.

Ayu kembali dalam pelukan ku. Perlahan-lahan dia mendongak melihat wajah ku. Dengan wajahnya yang ayu, dia merenung mata ku. Aku perhatikan matanya yang di lindungi cermin matanya mengecil, lantas aku teringat kenangan bersama kak Sue. Nampaknya Ayu sudah terlalu berahi. Aku rasa inilah masanya.

“Ayu, maafkan saya…. ” kata ku ringkas sambil aku terus melepaskan pelukan dan menolak tubuhnya rapat ke kereta.

Memang cara yang ku lakukan agak kasar, tetapi setiap gerakan yang ku lakukan terhadap Ayu aku lakukan dengan lembut agar dia selesa dan tidak tercedera. Aku pusingkan tubuhnya membuatkan bahagian hadapan tubuhnya rapat bersandar pada kereta kancilnya. Kemudian aku terus berlutut di belakangnya. Ayu sedar keinginan ku. Lalu dia sengaja melentikkan punggungnya yang sememangnya sudah tonggek itu untuk tatapan ku. Tanpa buang masa, aku terus campakkan beg ku ke lantai. Muka ku segera ku benamkan di lurah punggungnya. Punggungnya yang masih di baluti skirt hitamnya itu aku hidu sedalam-dalamnya. Aroma punggung Ayu sekali lagi memenuhi rongga pernafasan ku. Aku benar-benar sudah hilang pertimbangan ketika itu. Aku kucup, cium dan hidu celah punggung Ayu penuh nafsu. Nafsu ku semakin tak tertahan.

Aku terus selak kain Ayu ke atas. Serta merta Ayu terkejut dengan perbuatan ku. Dia cuba memusingkan badannya untuk mengelak punggungnya yang hanya seluar dalam sahaja yang tinggal dari di cium oleh ku. Namun kudratku ternyata lebih kuat dan dengan mudah aku tahan tubuh Ayu dari bergerak dan berpusing. Sekali lagi aku benamkan muka ku di celah punggungnya. Mulanya Ayu merintih sambil menggelek-gelekkan punggung untuk mengelak punggungnya dari di cium oleh ku, tetapi lama kelamaan Ayu akhirnya mengalah apabila suis nafsunya berjaya ku hidupkan. Punggungnya yang terdedah hanya dibaluti seluar dalam itu memberikan aku advantage untuk menjilat dan bermain-main dengan kelengkangnya dari belakang. Ternyata ianya memberikan keputusan yang sungguh positif. Namun, secara tidak langsung, aku sedari bahawa Ayu hanya merelakan aku melakukan tubuhnya dalam keadaan dia masih berpakaian. Punggungnya yang tonggek itu hanya rela di sentuh dan di kucup oleh ku jika ianya masih tertutup dengan kainnya. Dan, Ayu nampaknya telah terperangkap dengan kerelaannya sendiri. Pada ketika itu, aku tidak menyedari bahawa Ayu merelakan semua itu kerana dia mencintai ku. Apa yang ada di fikiran ku adalah, Ayu melakukannya kerana nafsu. Maafkan aku Ayu, aku masih mentah dalam soal cinta ketika itu.

Kelengkang seluar dalam Ayu terasa semakin basah. Lidah ku semakin dapat merasai rasa kemasinan dari air yang terbit dari lubang berahinya. Ayu semakin ghairah menikmati kucupan dan jilatan aku.Denganperlahan-lahan aku lorotkan seluar dalam Ayu ke bawah. Nah! Terserlah sudah punggung yang selama ini aku geramkan. Punggung yang selama ini hanya dapat ku lihat dari luar kain yang dipakainya kini terpapar tanpa seurat benang di hadapan mata ku.

“Zin.. cepat sikit ye.. Takut ada orang datang..” kata Ayu perlahan.

Aku terus menjilat kelangkangnya. Sambil hidungku menghidu bau celah bontot Ayu yang mengghairahkan walau pun sedikit bacin. Kedua-dua tangan ku tak henti meramas dan mengusap punggungnya. Lendir Ayu semakin banyak, seiring dengan erangan kecilnya yang kenikmatan lantaran dirangsang oleh lidah ku yang tak henti bermain di kelengkangnya. Sambil aku seronok melakukan perbuatan tidak senonoh itu, tangan ku juga dengan gopoh mengeluarkan batang aku yang sudah tak keruan tegangnya dari celah zip seluar slack yang telah ku buka.

Aku terus berdiri di belakang Ayu. Ayu segera hendak memusingkan tubuhnya. Sangkaannya bahawa perbuatan ku menikmati bontotnya telah selesai ternyata meleset. Aku segera tahan tubuhnya dari berpusing menghadap ku. Ayu terpaksa berdiri dalam keadaan yang sama. Perlahan-lahan aku rendahkan tubuh ku. Aku hunuskan batang ku yang sudah kembang berurat itu di celah kelengkang Ayu. Aku gosok-gosokkan batang ku di alur cipapnya yang sudah terlalu banjir. Ayu menonggekkan tubuhnya agar hujung batang ku lebih mudah sampai ke biji nafsunya. Aku peluk tubuh Ayu sambil batang ku tekan dan tarik agar lebih kuat geselnya dengan lurah cipapnya. Dapat ku dengari nafas Ayu semakin bergelora. Lalu aku ingin cuba melakukan yang lebih fantastik. Perlahan-lahan aku cuba masukkan kepala batang ku ke dalam pintu lubuk berahi Ayu yang sudah benar-benar licin itu. Namun, dengan pantas Ayu segera memberontak mengoyangkan punggungnya untuk mengelakkan aku pergi lebih jauh.

“Zin… Pleaseee.. Ayu masih virgin… Jangan sayangg… Tolonglahh… “Rayu Ayu perlahan.

Serta merta aku hentikan niatku. Rasa bersalah ku tiba-tiba wujud ketika itu. Aku telah memperlakukan seorang wanita yang belum pernah melakukan hubungan seks seperti pelacur. Aku rasa seperti menyesali terhadap perlakuan sumbang ku kepada Ayu. Lantas aku lepaskan pelukan dan aku berundur setapak ke belakang. Ayu menyedari aku menghentikan perbuatan ku lalu menoleh ke belakang. Dia memandang aku yang sudah berdiri setapak ke belakang. Ayu kemudian memusingkan tubuhnya dan terus rapat memeluk ku.

“Zin.. Ayu tahu Zin baik. Ayu tahu Zin tak sampai hati nak buat lebih teruk kat Ayu pasal Ayu masih dara. Sebab tu Ayu percayakan Zin. Sebab tu Ayu relakan semua yang Zin nak dari Ayu kecuali yang tadi tu je. ” kata Ayu perlahan sambil memeluk ku erat.

Aku hanya berdiri kaku membiarkan Ayu rebah di dada ku. Batang ku yang masih tegang itu di himpit tubuh Ayu membuatkannya semakin tegang dan keras.

“Ayu juga macam Zin. Ayu juga ada nafsu. Memang Ayu tak nafikan bahawa Ayu juga bernafsu kat Zin, malah lebih dari itu. Sebab tu Ayu relakan semua ni. Baiklah, sebelum ada orang lain datang, baik kita habiskan dulu ye..” kata Ayu sambil tangannya terus merocoh batang ku buat pertama kalinya.

Aku kenikmatan di saat tangan Ayu yang lembut itu melancapkan batang ku. Aku terus memeluk Ayu dan mengucup kepalanya yang masih bertudung itu. Sesekali Ayu mendongak memandang wajah ku. Wajahnya yang berkaca mata itu sungguh ayu dan serta merta menambah keberahian ku. Pipinya yang berjerawat halus aku usap perlahan penuh rasa sayang.

“Ayu.. tolong lancapkan kat bontot boleh tak..” aku meminta Ayu melakukannya di bahagian tubuh kesukaan ku.

Ayu hanya tersenyum sambil kembali merapatkan hadapan tubuhnya di keretanya. Aku terus menghunus batang ku di celah punggungnya. Aku geselkan batang ku di alur punggungnya yang tonggek itu. Semakin kuat aku geselkan semakin tak tahan aku rasakan. Batang ku semakin terbenam di belahan punggungnya yang dalam. Aku menikmati saat yang manis itu sepuasnya. Hinggalah apa bila aku sudah hampir hendak keluar, aku merengek mengucapkan kenikmatan merasai punggungnya. Aku tak henti memuji bontotnya yang tonggek itu.

Dan akhirnya lurah punggung Ayu dihujani dengan air mani yang memancut keluar dari lubang kencing ku. Seperti biasa, air mani ku yang banyak dan pekat itu akan berselaput di permukaan punggungnya dan mengalir jatuh perlahan-lahan mengikut bentuk punggung Ayu. Aku membiarkan tubuhku mengejang sejenak bagi menikmati sepenuhnya betapa sedapnya melancap di bontot seorang perempuan yang cantik dan tonggek itu dengan kerelaannya. Walau pun aku pernah menikmati bontot perempuan, Indumukhi, namun perasaan kali ini ternyata berbeza. Mungkin kerana bontot Ayu lebih tonggek berbanding bontot Indu dan kecantikan Ayu juga jauh lebih cantik darinya. Atau, mungkin itu juga adalah perasaan nikmat yang kurasakan di saat emosi dan perasaan ku semakin meningkat dewasa. Apa yang pasti, selepas kejadian itu, perhubungan antara aku dan Ayu semakin rapat dan semakin berahi.

Ayu secara rasminya menjadi wanita yang memuaskan nafsu ku dengan cara melancapkan ku, atau lebih mudah disebut sebagai tukang lancap. Ketika waktu makan tengah hari, kami kerap melakukannya di cubical ku apabila semua orang keluar makan. Setiap hari Ayu menghantar ku pulang dan sekali sekala kami melakukannya di dalam kereta. Tiada yang berat antara kami berdua. Terus terang aku katakan, kedewasaan aku membuatkan aku lebih matang berfikir tentang menghormati hak orang lain dan sebab itulah, aku tidak pernah walau sekali pun memasukkan alat kelamin ku ke dalam kemaluannya. Malahan, mulutnya juga tidak pernah kemaluan ku nikmati.

Ayu juga nampaknya gembira menjadi tukang lancap ku, walau pun tiada kepuasan yang dia kecapi dari segi hubungan seksual, namun dia menikmati kepuasan dari segi sudut lain. Dia puas berada di dalam dakapan ku, kucupan ku, belaian ku dan itu adalah apa yang dia katakan setelah aku meminta pendapatnya secara jujur tentang kepuasan dari lubuk hatinya. Baginya juga, memegang, melancapkan dan melihat air mani ku memancut keluar juga sudah cukup puas untuk dirinya. Lebih lebih lagi jika tubuhnya yang menjadi sasaran benih ku.

Jika di pejabat, hampir setiap hari kami melakukannya dan tiada siapa pun yang menyedari perbuatan kami berdua. Aku hanya bercuti melakukannya jika batang ku mula terasa sengal dan penat. Namun setelah ianya hilang untuk beberapa hari, IM bertajuk ‘burung haus’ akan terpapar di skrin komputer Ayu, menandakan kami boleh melakukannya anytime. Di sebalik kain yang menutup punggungnya, tiada siapa pun yang tahu bahawa di sebalik kainnya itu, tersembunyi air mani ku yang banyak menyelaputi celah punggungnya. Sekali-sekala jika Ayu mengenakan kain yang warnanya agak terang atau berseluar slack yang berwarna cerah serta sendat di punggungnya, sedikit kesannya akan kelihatan. Biasalah, kalau dah air namanya, pasti akan menembusi setiap lapisan yang boleh ditembusi.

Namun, seperti yang aku katakan sebelum ini, aku akui bahawa aku mencintai Ayu, namun rasa rendah diri tentang status ku sebagai pelajar dan faktor umur ku yang lebih muda darinya membuatkan aku melupakan niatku untuk menyintainya. Niat ku setiap kali bersama dengan Ayu adalah demi kepuasan nafsu semata-mata. Aku terpaksa tutup pintu cinta kerana bimbang juga jika ianya akan mengganggu gugat masa depan Ayu sekiranya kami benar bercinta. Akhirnya, setelah tempoh praktikal ku tamat, aku meninggalkan syarikat tersebut bersama lipatan sejarah yang takkan ku lupakan.

Setelah aku meningkat dewasa, sesekali terasa juga kekesalan meninggalkan cinta ku terhadap Ayu menjadi habuk yang diterbangkan oleh angin. Jika ku teruskan cinta ku, aku percaya, Ayu pasti akan berbangga menjadi milik ku kini. Namun, pertimbangan ku ketika diri ku masih mentah ketika itu melenyapkan sebuah kisah cinta yang bisu. Cinta yang tak terucap walau pun ku tahu, Ayu dan aku memang tidak bertepuk sebelah tangan. Kerana sesungguhnya, cinta yang berada dalam lipatan sejarah itu masih segar dalam ingatan dan memang tak akan ku lupakan. Kerana Ayu adalah cinta pertama ku yang sebenarnya cinta. Aku rasa kini dia sudah berumahtangga. Semoga Ayu berbahagia bersama suami dan anak-anak tersayang. Maafkan aku Ayu…

Koleksi Cerita Lucah

Pencarian:

Cerita Lucah – Pepek rakan sekerja – TERBARU 2015

 GAMBAR GADIS BOGEL 2015

http://www.gadisbogel.me/Dulu masa aku kerja opis, ada sorang kak Ni nama dia Maya, memang daring gila. Dia memang kaki clubbing dan soial setakat pegang2 rapat2 memang takde hal. Muka boleh tahan je la, tapi bodi memang slim. Dressing memang power, ketat2 dan kain belah, nampak lurah memang mainan dia. Aku memang menunggu peluang untuk menggesel bontotnya. Peluang terbuka bila dia mintak tolong aku buat kerja melipat kertas di meja bila orang lain ada kursus, tinggal kami berdua dalam pejabat yg hanya ada 5 org itu. Bos pula melepak dalam biliknya. So aku sengaja ambik tempat di sebelahnya, yg memakai baju kebaya satin ketat biru pada hari itu. Sambil buat kerja, aku rapatkan konekku ke punggung bahagian kanannya, dan sekali sekala bila clear, aku tekankan konekku ke punggungnya. Aaaahhhh nikmatnya rasa bila dapat menggeselkan konekku di punggungnya yg sederhana besar itu. Sebab aku pakai batik hari tu, perlahan aku kuarkan konekku dari zip, dan sembunyikan belakang bajuku, dan bila line clear, aku pun cepat2 kuarkan konekku lalu aku sentuhkan ke bontotnya yang ranum. Aaaahhhh nikmatnya lebih dahsyat, meremang bulu tengkuk aku, sambil konekku menegak semakin keras di punggungnya. Aku jeling kepala konekku dan nampak air maziku mengalir sedikit-sedikit di bajunya. Dan bila dah nak abis kertas, aku masukkan balik konekku dalam seluar. Walaupun tak puas, tapi aku harap ada peluang lain pasni.
Peluang lebih besar aku dapat bila dia ajak aku gi club. Dia kata suh aku temankan balik takut dia high. Ini peluang baik takkan aku lepaskan kerana pasti aku akan dapat habuan memuaskan nafsuku menggunakan tubuhnya. Kami pun pergi, dia memakai skirt pendek ketat dan nampak lurah, sungguh menaikkan nafsuku. Dia tonggang arak, tapi aku tak pasal aku memang tak minum arak, hahaha. Kami menari dan memang habis badannya aku dapat raba dan pegang, kerana dia menari dengan agak daring. Hampir tengah malam, aku ajak dia balik, dan dia dah mabuk teruk. Aku papah dia ke keretanya, dan bila tiba kawasan gelap, cepat2 aku kuarkan konekku dan aku tekankan ke bontotnya yang berbungkus skirt ketat itu. Aaaahhhh nikmatnya tak terkata sungguh sampai berair2 maziku kuar membasahi bontotnya. Sampai ke kereta aku menembapnya, kerana dia dalam keadaan khayal, masa berdiri  di pintu, aku selak kain dia skit di burit pastu aku julurkan konekku ke buritnya sambil memeluknya. Aaahhhh semakin nikmat tak tertahan, dan konekku mula berdenyut2 kencang dan, creeettt!!!! Maniku memancut2 membasahi spendernya. Aku kepuasan melepaskan mani sulungku kepadanya. Aku masukkan dia ke dalam kereta, lalu aku memandu keretanya ke satu kawasan gelap. Sesampai di situ, aku aku renung kembali tubuhnya yg menggahairahkan itu. Dia sudah tak sedarkan diri akibat mabuk, konekku mengeras kembali ingin mengerjakan tubuhnya. Aku raba pehanya yg putih gebu itu, lalu aku keluarkan konekku dan aku palitkan saki baki mani yg masih ada di kepala konekku ke pipinya. Aku tekankan konekku ke kopeknya yang bersaiz B cup itu terutama di lurahnya yg sekian lama aku gerami. Kemudian, aku kangkanginya lalu aku kenakan konekku ke farajnya dari celah spendernya, aaahhhh sungguh nikmat terasa, sehingga konekku mula menggelegak, namun kali ini airku tak nak keluar pasal dah abis tadi. Lalu, setelah puas aku mengambil kesempatan padanya, aku drive semula ke rumahnya. Dia pesan jika dia mabuk suh aku hantar ke rumahnya dan aku tak kisah walaupun aku kena naik teksi pastu sebab dapat habuan. Sesampai di rumahnya, dengan sembunyi2 aku bawa dia masuk takut org nampak, agak clear pasal masa tu dah pukul 3 am, dan sampai ke dalam biliknya, aku sengaja meniarapkan dia sebab aku nak tunggang bontotnya. Aku pun bogelkan tubuhku lalu aku kangkangi tubuhnya, dan aku julurkan konekku ke celah spendernya lalu kena buritnya, aku tindih bontotnya sahaja sambil tanganku menyokong badanku supaya tak tindih sangat badannya, lalu aku mula mengayak konekku di celah buritnya, aaahhhh sungguh licin dan nikmat rasanya kerana maziku mula melicinkan farajnya, aku renung seluruh tubuhnya yg slim itu, semakin menaikkan nafsuku dan akhirnya, konekku semakin kebas dan semakin mengeras dan, aaahhhhh!!!! Creeettt!!! Creeettt!!! Maniku membuak2 lagi membasahi pukinya yang nikmat. Aku terus mengayak hingga habis maniku aku serahkan ke tubuhnya. Setelah itu aku lap2 sket maniku sebelum meninggalkan Kak Maya. Aku pun pulang menaiki teksi. Ahhh puas nafsuku malam itu.
Cerita Lucah Berahi
Cerita Panas
Cerita dewasa
Aksi lucah ghairah
Aksi lucah budak sekolah
Berahi lucah
Video Lucah
Cerita lucah melayu
Blog lucah
Seri lucah
Kisah lucah
Cerita kisah lucah cikgu

Ini Blog Cerita Lucah – Koleksi cerita lucah melayu malaysia / indonesia Lucah Berahi Panas dewasa

Pencarian:

Tonton video lucah

“Nor, masuk bilik saya sekejap.”

Petang itu kira-kira pukul 6.00 petang waktu aku bersiap-siap untuk pulang Datuk Ong Tee Liat yang baru pulang dari menghadiri mesyuarat dengan pelanggannya mendekati mejaku dan mengarah agar aku masuk ke biliknya. Aku lihat muka Datuk Ong kemerehan dan langkahnya terkocoh-kocoh laju.

Aku memikirkan sesuatu, mungkin Datuk Ong menghadapi masalah. Dalam keadaan kegawatan dan ekonomi yang tidak menentu segala sesuatu boleh saja berlaku. Sebagai personal assistant atau setiausaha pribadi aku memang rapat dengan Datuk Ong. Segala masalah syarikat sentiasa diceritakan padaku. Bila satu persatu syarikat kewangan di Amerika Syarikat dan England runtuh dan muflis, tempiasnya mungkin terkena syarikat Datuk Ong yang juga menceburi bidang kewangan.

Aku menghadap cermin di sisiku. Aku rapikan pakaian dan rambutku dan berjalan pelan ke bilik Datuk Ong. Dengan perasaan debaran aku mengetuk daun pintu bilik pejabat Datuk Ong. Aku pun hairan kenapa hatiku rasa berdebar padahal sebelum ini tidak ada pula perasaan seperti ini bila aku memasuki bilik Ong.

“Masuk.”

Aku mendengar suara Datuk Ong bila aku mengetuk pintunya. Aku memulas tombol pintu, membuka daun pintu dan perlahan aku melangkah mengatur tapak demi tapak. Kira-kira enam langkah berjalan aku sudah berada tepat di hadapan Datuk Ong. Datuk Ong sedang bersandar di kerusinya sambil memejam mata.

“Datuk, ada perkara yang Datuk perlu saya lakukan?” tanyaku dengan suara lembut.

“Nor duduk,” Datuk Ong bersuara dengan mata masih terpejam.

Cara dan sikap Datuk Ong membuat aku sedikit cemas. Biasanya tidak begini. Selalunya Datuk Ong kelihatan ceria. Tapi petang ini Datuk Ong sama sekali berubah. Belum pernah aku melihatnya selama beberapa tahun aku bekerja dengannya.

Boss aku yang berusia 60 tahun itu kelihatan seperti ada sesuatu masalah yang mengganggu dirinya. Aku harap bukanlah masalah syarikat, kalau ada masalah pun biarlah masalah yang tidak ada kena mengena dengan syarikat. Aku sendiri gerun jika syarikat ini muflis aku akan kehilangan kerja. Bagaimana aku akan membayar sewa rumah dan ansuran kereta yang baru aku beli.

“Datuk, datuk ada masalah?” Tanyaku selepas beberapa ketika melihat Datuk Ong diam saja.

“Ya! Saya ada masalah.”

Aku bertambah risau bila Datuk Ong menyebut dia ada masalah. Aku kembali membayangkan kalau aku akan kehilangan pekerjaan. Pada masa keadaan ekonomi yang tidak menentu ini rasanya tidak mudah untuk mendapat pekerjaan. Ngeri rasanya membayangkan perlu naik turun tangga bangunan membawa dokumen dan resume mencari kerja kosong.

“Berat ke masalah datuk?” aku memberanikan diri bertanya.

“Tak pasti. Nor yang akan menentukannya.”

Aku menjadi tidak mengerti. Aku yang akan menentukan berat atau ringannya masalah Datuk Ong. Apa pula kaitannnya aku dengan masalah Datuk Ong. Aku keliru dan tidak faham.

“Saya tak faham datuk.” Aku berterus terang.

“Begini ceritanya. Tadi selepas mesyuarat saya dan kawan-kawan ke kelab. Mereka memasang video, cerita menarik.”

“Menonton video perkara biasa datuk. Tak ada masalah pun, saya juga kadang-kadang menonton video.”

“Ini video sepecial, saya perlu bantuan.”

“Bantuan macam mana tu datuk. Saya kurang faham.” Aku masih keliru dengan teka-teki lelaki cina di hadapanku ini.

“Video tu cerita orang dewasa. Nor kita bercakap macam orang dewasa.”

Aku masih kurang faham. Bercakap macam orang dewasa? Memang pun aku bercakap dengan Datuk Ong macam orang dewasa. Takkan aku nak bercakap macam budak-budak dengan majikan sendiri.

“Saya bercakap macam orang dewasalah datuk.”

“Macam ni Nor, kita pendekkan cerita. Bila tengok video tu penis saya tegang, sekarang pun belum turun. Saya perlu bantuan Nor untuk turunkannya.”

“Saya belum pernah buat perkara macam tu. Kerja saya membantu datuk urusan pejabat saja.”

“Saya bagi Nor satu ribu.”
Aku jadi seram dengan permintaan Datuk Ong kali ini. Sejak kahwin aku tidak pernah menduakan suamiku. Sudah dua tahun aku berkahwin tapi kami merancang untuk tidak memiliki anak dalam waktu terdekat. Hubungan aku dengan suami amat bahagia. Aku mendapat kepuasan tiapa kali aku bersama dengan suami.

Fikiranku berkecamuk, jika aku menerima tawaran Datuk Ong bermakna aku perlu melayan kehendak seksnya. Jika aku menolak, aku kehilangan wang seribu. Seribu ringgit sama dengan gaji aku setengah bulan. Kerja yang perlu aku lakukan pun bukan lama, paling lama pun satu jam sahaja. Tambahan pula telah seminggu suamiku out station. Nafsuku tak dilayan seminggu jugalah. Aku confuse.

“Ikut suka datuklah, saya hanya kerja di sini,” jawabku pelan.

“Ini bukan perintah, Nor. Ini tak ada kaitan dengan kerja, ini hanya tawaran sukarela. Nor boleh tidak setuju dan kerja Nor di sini macam biasa sahaja,” jelas Datuk Ong menghilangkan keraguanku.

Aku mengganguk tanda setuju. Wajah Datuk Ong berseri-seri. Datuk Ong bangun dari kerusinya dan mengajakku ke kerusi sofa tempat dia selalu melayan tetamu yang datang ke biliknya. Kami duduk berdekatan di atas kerusi sofa panjang yang lembut. Datuk Ong menarikkan zip seluarnya dan menarik seluar dalam ke bawah. Melenting zakar Datuk Ong yang keras terjongol keluar.

“Nor, penis saya keras sejak tadi. Dia tak mahu turun. Cuba Nor pegang.”

Aku terperanjat pada mulanya melihat batang pelir Datuk Ong yang sudah keras. Batang pelir lelaki cina ini tidaklah besar sangat. Aku lihat biasa-biasa saja. Kepala merah kelihatan sedikit terkeluar dari kulupnya. Baru aku perasan rupanya Datuk Ong tidak bersunat. Aku pegang dan ramas pelir tersebut atas permintaan Datuk Ong.

Datuk Ong makin rapat kepadaku dan memasukkan tangannya ke dalam bajuku. Buah dadaku disentuhnya lembut. Datuk Ong mula menanggalkan butang bajuku. Aku membantu dengan melepaskan blazer yang aku pakai. Aku membiarkan tangan Datuk Ong merayap di atas coliku. Pada mulanya tindakan Datuk Ong tidak agresif, tapi lama kelamaan dia semakin ganas. Maklumlah orang dah tua, perlu pemanasan terlebih dulu macam enjin kereta lama.

Datuk Ong menanggalkan coliku. Dia menghisap tetekku sepuas-puasnya. Buah dadaku diramas dan dihisapnya. Aku mula menjadi khayal. Datuk Ong mula menghisap lidahku dengan rakus. Dia mula mencium dan menghisap lidahku berselera. Aku semakin geli. Aku menanggalkan baju kot dan kemeja Datuk Ong. Kemudian seluarnya pula kutanggalkan. Datuk Ong terus menjalankan kerja meramas dan menghisap buah dadaku.

Setelah puas bermain dengan dua gunungku Datuk Ong mula menggerakkan tangannya ke arah skirt pendekku. Tangannya dengan cekap menyelak skirtku ke atas. Seluar dalamku kelihatan. Datuk Ong terus meraba-raba ke dalam seluar dalamku mencari lubang perigiku. Tangan Datuk Ong menggentel-gentel biji kelentitku dengan enak sekali. Aku mengeluh kesedapan.

Setelah itu seluar dalamku dilucutkan oleh Datuk Ong. Ketika itu aku masih duduk di atas kerusi lagi. Datuk Ong membongkokkan kepalanya untuk menjilat lubang cipapku. Aku pun membukakan kelangkangku lebar-lebar agar Datuk Ong dapat selesa menghisap cipapku.

“You punya barang banyak baguslah Nor”, kata Datuk Ong.

Aku tersenyum saja menerima pujian Datuk Ong. Aku memang menjaga alat sulitku dengan rapi. Kebersihan kujaga. Aku cukur bersih bulu-bulu yang tumbuh, hanya sejemput kecil kutinggal bahagian atas tundunku yang tembam. Cipapku selalu aku cuci dengan feminine wash. Tentu saja Datuk Ong suka aromanya yang segar. Orang lelaki memang suka bau cipap yang segar dan bersih.

Datuk Ong terus menghisap dan menghirup cairan dari cipapkuku. Air semakin banyak membasahi bibir cipapku yang merah ranum. Hujung hidung Datuk Ong menggelitik hujung kelentitku. Aku geli bercampur nikmat. Bila lidah Datuk Ong meneroka lubang cipapku, aku rasa seperti terbang di kayangan. Lazat, nikmat, geli bercampur-campur.
Aku tak tinggal diam. Aku memegang balak Datuk Ong. Kulupnya yang tebal masih membungkus kepala merahnya. Pertama kali aku memegang pelir orang lain selain suamiku. Kali ini pelir lelaki cina tua yang tak bersunat.

Aku memegang dan mengusapnya sehingga balak Datuk Ong bertambah tegang. Perlahan-lahan aku meramas-ramas batang dan melurutkan kulupnya. Batangnya aku mainkan sehingga betul-betul keras. Kulihat kepala merah secara perlahan-lahan keluar dari kulupnya. Hanya separuh sahaja kepala merah licin keluar dari kulup, separuh lagi masih dibungkus kulit kulup. Kepala pelir warna merah, kulit kulup warna coklat muda. Pelan-pelan aku menolak kulit kulup ke belakang. Mudah sahaja ia bergerak. Sekarang semua kepala pelirnya terbuka. Balak Datuk Ong sekarang dua warna. Bahagian kepala warna merah berkilat, bahagian batang warna coklat muda berurat-urat.

Kerana agak penasaran aku belek batang pelir Datuk Ong. Pelir tak bersunat ni bentuknya macam pelir budak kecik cuma ukurannya saja tentunya lebih besar dan lebih panjang. Satu lagi bezanya aku lihat ialah kulup budak kecik tak boleh diloceh tapi pelir Datuk Ong mudah saja diloceh. Kulit kulup mudah bergerak ke belakang memperlihat kepala merah yang bentuknya macam kudup cendawan atau topi jerman.

“Nor, you hisap penis I.”

“Saya tak biasa hisap lancau tak potong.”

Aku rasa geli juga bila disuruh hisap pelir lelaki cina tua di depanku ini. Kawanku pernah cerita pelir lelaki yang tak bersunat kurang bersih. Ada benda-benda putih di bawah kulit kulup. Itu semua cerita kawan-kawanku.

“Penis I bersih. Nanti I tambah lagi dua ratus.”

Cakap Datuk Ong dah jadi lain, sekejap saya sekejap I. Aku tak kisah semua ini, aku memikirkan habuan tambahan dari Datuk Ong. Dua ratus ringgit extra. Kira okeylah tu. Bukan luak pun kalau aku hisap dan kulum batang cina berkulup tu. Aku mula beraksi, aku dekatkan mukaku ke celah paha Datuk Ong. Pertama sekali aku cium kepala merah lembab tu. Baunya agak pelik, tapi mungkin inilah aroma kepala pelir lelaki tak bersunat. Agak berbeza dengan kepala pelir suamiku yang rasanya tidak ada bau. Kemudian aku jilat kepala merah tersebut, bermula dari lubang kencing hingga ke bahagian takuknya. Puas menjilat aku mengulum batang tua tersebut dan aku hisap pelan-pelan. Hanya beberapa minit terasa ada cairan hangat agak masin keluar dari muncung pelir Datuk Ong. Rupanya Datuk Ong telah mengeluarkan mazinya.

“Cukup Nor, I dah tak tahan. I nak rasa vagina you, I nak fuck you.”

Sesudah puas Datuk Ong menghisap cipapku dia mula memegang balaknya untuk di masukkan ke dalam cipapku.

“Boleh bikin doggy style ke, Nor?” tanya Datuk Ong.

“Apa saja yang Datuk minta Nor kasi,” jawabku.

Aku pun terus membongkokkan badanku di atas carpet sambil tanganku memegang kerusi sofa. Datuk Ong memeluk aku dari belakang. Terasa kehangatan tubuh kami berdua walau aircon terpasang di bilik Datuk Ong yang besar dan mewah itu. Datuk Ong merangkul badanku dari belakang sambil mencium belakang tengkokku. Terasa hangat nafas cina tua terasa di leherku.

Aku rasa batang Datuk mula membelah kedua belah buntutku. Perlahan-lahan Datuk Ong menghalakan batang kerasnya ke arah muara buritku yang semakin berdenyut-denyut minta diteroka. Kepala batang Datuk Ong akhirnya sampai ke belahan kemaluanku. Datuk Ong menekan perlahan-lahan batangnya ke dalam cipapku yang sudah basah. Terasa licin dan terus menerjah sehingga sampai ke dalam. Rasaku batang Datuk Ong tak panjang sangat, mengikut perkiraanku lebih pendek daripada pelir suamiku.

Kenanganku kembali ke zaman kecilku. Waktu usiaku 12 tahun, ibuku memujuk adik lelakiku yang berusia 10 tahun supaya bersunat. Adikku pada waktu itu tak mahu bersunat kerana takut sakit. Kata ibuku orang perempuan tak mahu lelaki tak bersunat. Kata ibuku lagi lelaki yang tak bersunat tidak boleh kahwin. Aku tak faham kata-kata ibuku waktu itu.

Sekarang ini batang pelir Datuk Ong yang tak bersunat tu telah bersarang dalam buritku. Selesa saja dia keluar masuk dalam lubangku yang sempit. Batang cina yang berkulup yang tak kenal pisau tok mudim tu gagah saja meneroka burit melayuku. Cerita ibuku tadi tidak benar sama sekali, itu hanyalah gula-gula bagi memujuk adikku supaya mahu berkhatan. Bagiku berkhatan atau tidak sama saja.

Apabila habis batang Datuk Ong terbenam ke dalam cipapku dia mula menghayunkan buntutnya agar balaknya keluar dan masuk. Batang Datuk Ong terus keluar dan masuk dengan lancarnya di dalam cipapku. Sesekali Datuk Ong menjerit kesedapan. Aku pun begitu juga, cuma kurang sedap jika dibandingkan dengan batang suamiku yang bersunat. Semasa batang Datuk Ong masuk terasa sedap, tetapi apabila ditarik nikmatnya tidak seberapa. Mungkin ini yang disebut kawanku, batang berkulup ni bila masuk bertabik bila keluar bersalam.

Aku cuma melayan kerenah Datuk Ong saja. Setelah puas cara doggy, Datuk Ong menelentangkan aku di atas carpet lembut. Kali ini cipapku betul-betul di depannya. Dia membetulkan kepala merahnya yang berlendir menghala lubang buritku. Aku mengangkang luas bagi memudahkan kerja Datuk Ong. Batang Datuk Ong terus dimasukkan ke dalam cipapku. Dia menyorong tarik dengan lajunya. Tiba-tiba aku sudah mahu mencapai klimaks, aku terus memeluk badan Datuk Ong agar dia melajukan lagi hayunannya. Tiba-tiba seluruh badanku lemah terkulai kesedapan. Datuk Ong juga semakin laju menghayunkan balaknya.

“Nor I nak lepas dalam, boleh?”

“Boleh datuk, tapi kena extra dua ratus. Saya tak mau mengandung.”

“Okey, okey.”

Datuk Ong menjawab dengan suara terketar-ketar. Batang pelirnya terasa makin bertambah keras dan berdenyut-denyut. Aku tahu sebentar lagi tentu Datuk Ong akan memancutkan mani panasnya. Aku mengemut lebih laju supaya Datuk Ong terasa sedap. Aku ramas dan urut batang tua itu dengan dinding buritku. Aku kemut makin laju dan makin kuat.

“Aahhh… uuhhh… sedap Nor.”

Datuk Ong mengerang kuat. Serentak itu aku rasa badannya menggigil dan pahanya terketar-ketar. Badannya dirapatkan dengan badanku dan terasa pancutan demi pancutan menerpa pangkal rahimku. Datuk Ong telah melepaskan benih-benih tuanya ke dalam rahimku. Aku harap benih lelaki tua ini tidak akan tumbuh dan membesar dalam rahimku.

“Barang Nor sungguh sedap, sempit lubangnya,” kata Datuk.

Aku hanya tersenyum. Datuk Ong terkapar keletihan di sebelahku. Dia meraba-raba tetekku dan meramas-ramasnya perlahan. Aku biarkan saja. Aku juga keletihan. Mungkin kerana agak lama berpisah dengan suamiku maka batang cina tua ini sedap juga rasanya. Aku sempat mengalami orgasme bila cairan hangat menerpa rahimku tadi. Aku puas walaupun rasanya tak setanding dengan suamiku.

Selepas itu aku ke bilik air membersihkan badanku agar pekerja lain tidak curiga tentang apa yang berlaku. Setelah siap aku dan Datuk Ong mengemaskan diri, Datuk memberiku sekeping cek tertulis seribu empat ratus ringgit. Bagi aku tak rugi aku melayan bossku dengan baik kerana aku juga mendapat habuan.

Aku dah rasa batang bersunat punya suamiku dan batang berkulup punya Datuk Ong. Aku membandingkan kedua-duanya. Aku rasa batang bersunat lebih sedap, batang berkulup kurang sedap.

Cerita X218

Ketagihan Kontol Gede

Cerita Panas – Hallo, nama saya Lilian. Saya mau bercerita tentang pengalaman saya beberapa waktu yang lalu. Saya adalah wanita yang memiliki hyperseksual yang dalam hal ini kecanduan akan kebiasaan sepongan (melakukan oral seks terhadap kemaluan pria). Sudah lama sekali saya waktu pertama kali menghisap kemaluan pria. Waktu itu umur saya 16 tahun. Dan setelah kejadian itu, saya sudah mendapatkan 2 kejantanan pria lagi untuk saya sepong. Saya benar-benar tidak puas dengan tidak terpenuhinya keinginan saya untuk menghisap kemaluan pria. Masalahnya saya sering dipingit orang tua, apalagi ditambah dengan lingkungan sekolah saya yang merupakan sekolahan khusus cewek. Jadi saya sering sakaw (menagih) kemaluan pria. Suatu malam, saya sudah benar-benar tidak tahan lagi. Buku dan VCD porno pun tidak bisa memuaskan saya. Bahkan waktu saya melakukan masturbasi pun saya tetap merasa kurang puas.

Saya yang sehabis masturbasi, membuka jendela kamar saya yang berada di lantai 2 rumah saya. Waktu itu jam 23:30. Saya melihat jalanan di depan rumah sudah sepi sekali. Tiba-tiba ide gila saya mulai lagi. Saya dengan nekat, diam-diam keluar rumah sambil bertelanjang tanpa sepengetahuan siapa pun yang ada di rumah karena semua sudah pada tidur. Saya sampai nekat melompat pagar dengan harapan ada cowok atau pria yang melihat dan memperkosa saya. Apapun asal saya bisa menghisap kemaluannya.

Di komplek saya memang sepi sekali pada jam-jam segitu. Saya sedikit menyesal juga, kenapa saya tidak keluar agak lebih sore. Agak dingin juga malam itu atau mungkin juga karena saya tidak memakai selembar pakaian pun. Di ujung jalan, saya melihat masih ada mas Agus, tukang nasi goreng langganan saya yang masih berjualan. Langsung saya sapa dia.
“Mas Agus, nasi gorengnya dong…” pinta saya.
“Lho, mbak Lili..? Ngapain malam-malam begini masih di luar? Ngga pake apa-apa lagi…” sahutnya sambil terheran-heran melihat saya yang tanpa sehelai benang pun di tubuh.
“Abis panas sih, Mas. Kok tumben masih jualan..?”
Mas Agus tidak menjawab. Tetapi saya tahu matanya tidak bisa lepas dari payudaraku yang putih polos ini.
“Ngeliatin apa mas..?” kutanya.
“Ah ngga…” katanya gugup.
Lalu mas Agus menyiapkan penggorengannya untuk memasak nasi goreng pesananku. Saya lihat ke arah celananya, saya tahu batang kemaluannya sudah berubah jadi bertambah besar dan tegang. Karena saya sudah tidak tahan lagi untuk segera menghisap kemaluannya, saya nekat juga. Saya jongkok sambil membuka ritsletingnya dan mengeluarkan batang kejantanannya dari dalam CD-nya. Tidak pakai basa-basi, saya masukkan alat vitalnya mas Agus ke dalam mulut saya. Saya jilat-jilat sebentar lalu saya hisap dengan bibir. Saya yakin mas Agus merasakan senang yang tiada tara, seperti mendapatkan rejeki nomplok. Tidak hanya itu, saya juga menjilati dua telor mas Agus. Memang agak bau sih, tetapi saya benar-benar menikmati kejantanan mas Agus yang sekarang dia mulai bersuara, “Mmmh… mmmh… uhhh…”

Kira-kira 15 menit saya menikmati kemaluannya mas Agus, tiba-tiba mas Agus menyuruh saya untuk berdiri. Dia memelorotkan celana dan CD-nya sendiri sampai bawah dan menyuruh saya berbalik. Sekarang saya membelakangi mas Agus. Mas Agus jongkok dan menjilati kemaluan saya. Saya langsung merasakan kenikmatan yang hebat sekali. Hanya sebentar dia melakukan itu. Selanjutnya dia berdiri lagi dan memasukkan batang kejantanannya ke liang senggama saya. Kami berdua melakukan senggama sambil berdiri. Saya melakukannya sambil pegangan di gerobak nasi gorengnya. Saya sudah benar-benar merasa keenakan.

“Uuuh… akkhh… akkh… akhhh…” saya menjerit-jerit kegilaan, untung tidak ada yang mendengar.
“Mas, kalo udah mau keluar, bilang ya…” pinta saya.
“Udah mau keluar nih…” jawabnya.
Langsung saja saya melepaskan batang kejantanannya dari liang vagina saya dan jongkok di hadapan kemaluannya yang mengacung tegak. Tetapi setelah saya tunggu beberapa detik, ternyata air maninya tidak keluar-keluar. Terpaksa saya kocok dan hisap lagi batang kejantanannya, saya jilati, dan saya gigit-gigit kecil. Setelah itu tibalah saatnya saya menerima upah yang dari tadi saya sudah tunggu-tunggu, yaitu air maninya yang memang lezat.
“Crot.. crot.. crot…” semuanya saya minum seperti orang yang kehausan.
Langsung saja saya telan dan saya bersihkan kejantanannya dari air mani yang tersisa.

Bertepatan dengan itu, 2 laki-laki lewat di depan kami. Ternyata mereka adalah bapak-bapak yang tinggal di komplek ini yang sedang meronda.
“Lho, mas Agus lagi ngapain..?” kata seorang bapak di situ.
“Ah ngga pak… mmm… ini mbak Lily…” jawab mas Agus malu-malu.
“Ini Om, saya habis ‘gituan’ sama mas Agus…” saya jawab begitu nekat dengan harapan 2 bapak ini juga mau memperkosa saya seperti yang telah saya lakukan dengan si penjuali nasi goreng.
Mereka keheranan setengah mati mendengar pengakuan saya itu.
“Adik ini tinggal dimana?” tanya salah satu dari mereka.
“Di sana, di blok F.” jawab saya.
“Ayo pulang sudah malam..!”
Dan saya pun diseret pulang. Saya takut setengah mati karena jika sampai saya dibawa pulang, pasti ketahuan sama orang tua dan saya bakal digantung hidup-hidup.

Di tengah jalan, saya beranikan diri berkata pada mereka, “Om, mau nyusu ngga..?”
“Jangan main-main kamu…”
“Ayolah Om…. saya tau kok, Om mau juga kan ngewe sama saya..?”
Mendengar itu, si Om langsung terangsang berat. Saya langsung mengambil kesempatan meraba-raba batang kejantanannya yang tegang.
“Ayo dong Om… saya pengen banget lho…” saya bilang lagi untuk menegasakan maksud saya.
Bapak yang satunya lagi langsung setuju dan berkata, “Ya udah, kita bawa ke pos ronda aja pak Karim…” dan pak Karim pun setuju.

Setibanya di sana, ternyata masih ada 3 orang lagi yang menunggu di sana, termasuk bang Parli, hansip di komplek saya. Saya kegirangan sekali, bayangkan saya akan mendapatkan 6 batang kejantanan dalam semalam. Gila… beruntung sekali saya malam itu. Setelah kami berenam ngobrol-ngobrol sebentar tentang kejadian antara saya dan mas Agus, saya langsung memberanikan diri menawarkan kesempatan emas ini ke mereka, “Saya sebenernya pengen banget ngerasain barangnya bapak-bapak ini…”
Mereka langsung terlihat bernafsu dan terangsang mendengar perkataan saya, dan saya jeas mengetahuinya. Saya suruh mereka berlima melepas celana dan CD mereka sendiri dan duduk di bangku pos hansip itu. Mereka berbaris seperti menunggu dokter saja. Batang kemaluan mereka besar-besar juga. Saya langsung memulai dengan batang kejantanan yang paling kanan, yaitu senjata keperkasaannya bang Parli. Saya hisap, saya gigit-gigit kecil, saya kocok di dalam mulut saya, dan saya jilati keseluruhan batangnya dan termasuk juga telurnya. Begitu juga pada batang keperkasaan yang kedua, ketiga, keempat, dan yang terakhir miliknya pak Karim.

Setelah selesai, saya masih belum puas kalau belum meminum air mani mereka. Lalu saya duduki batang kejantananmya bang Parli sampai masuk ke liang senggama saya. Saya kocok-kocok di dalam vagina saya. Sementara itu, pak Karim dan satu bapak lainnya menjilati dan menghisap puting susu saya, sedangkan yang dua bapak lainnya menunggu giliran. 10 menit setelah itu, saya sudah setengah tidak sadar, siapa yang menggenjot lubang senggama saya, siapa saja yang menghisap buah dada saya, batang kejantanan siapa saja yang sedang saya sepong, seberapa keras jeritan saya dan berapa kali saya sudah keluar karena orgasme. Ada pula saatnya ketika satu senjata kejantanan masuk ke lubang vagina saya, sedangkan satu senjata lagi masuk ke lubang anus saya sambil saya menghisap 3 batang kemaluan secara bergantian. Pokoknya saya sudah tidak sadar lagi. Karena merasakan kenikmatan yang benar-benar tiada tara.

Untungnya mereka tidak mengeluarkan air maninya di dalam lubang kewanitaan saya, kalau tidak bisa hamil nanti saya… berabe dong..! Lagipula saya berniat meminum semua air mani mereka. Akhirnya saat yang saya tunggu-tunggu, yaitu saatnya saya berjongkok di depan mereka dan mereka mengelilingi wajah saya sambil mengocok-ngocokkan barang mereka masing-masing. Sesekali saya masih juga menghisap dan menyedot kelima batang kejantanan itu dengan lembut.
Akhirnya, “Crot… crot… crot… crot…. crot…” saya malam itu seperti mandi air mani. Saya merasa puas sekali.

Waktu pulang, saya diantarkan bang Parli, si hansip. Ketika sudah sampai di depan rumah saya, sekali lagi bang parli membuka ritsletingnya dan menyodokkan batang kejantanannya ke dalam lubang senggama saya. Saya melakukannya sambil nungging berpegangan ke pagar depan rumah saya. Selama 10 menit saya dan bang parli melakukan senggama di depan pagar rumah saya. Air maninya sekarang terpaksa dikeluarkan di punggung saya. Saya tidak menyesal karena air maninya kali ini tidak terlalu banyak. Saya melompat pagar lagi, dan masuk ke kamar diam-diam. Sampai di kamar sudah jam 3 lebih. Badan saya seluruhnya malam itu bau sperma. Saya langsung tidur tanpa mandi dahulu karena besoknya saya harus ke sekolah. Saya yakin mereka semua akan tutup mulut sebab takut dengan istri mereka masing-masing.

Tamat
Cerita Panas

ML dengan Cewek India

Hai teman teman, sebelum gue memperkenalkan diri, sedikit pembukaan tentang cerita dewasa gue ml dengan cewek India, walaupun keturunan india, tapi sensasi dengan Cewek keturunan india ini sama aja ml dengan cewek india, dan semua gue alami secara kebetulan, dan terjadilah cerita gue ml dengan cewek India ini. Gw cowo umur 20thn,gw kuliah di salah […]
Cerita Dewasa

Nadirah

(klik sini untuk video)
Ini adalah kisah mengenai Nadirah yang mana mulai aku kenal semasa aku mengunjungi rumah sepupu ku di bandar P. Walaupun aku dengan sepupu aku bolehlah dikatakan agak rapat,
namun aku jarang berkunjung ke rumahnya kerana kesibukan tugas. Namum setelah aku mengenali Nadirah, anak kepada jiran sepupunya, aku mulai rajin bertandang ke rumah sepupu ku, dengan harapan yang aku akan dapat bersemuka dengan Nadirah, dan mungkin dapat aku mengajaknya keluar.

Aku sendiri bagaikan tidak percaya apabila mendapat tahu yang Nadirah sebenarnya baru berusia 12 tahun. Dari susuk tubuhnya, aku menjangkakan yang dia mungkin berusia 15 atau 16 tahun. Untuk seorang yang berusia 12 tahun, Nadirah bolehlah dikatakan agak tinggi juga. Rambut panjang melepasi bahunya. Punggung bolehlah dikatakan agak berisi walaupun tak bolehlah nak lawan orang yang lebih tua dari dia. Dadanya montok…
bolehlah dikatakan masih segar.

Setelah berbulan aku hanya berbual dengannya, akhirnya aku memberanikan diri mengajaknya menemankan aku ke bandar. Alasan ku kerana aku inginkan seorang untuk membantu aku memilih sesuatu padahal aku ada idea lain yang sedang bermain dalam kepala ku.

Dalam kereta aku saja, aku terus cuba mencungkil rahsia Nadirah…samada dia pernah tengok lelaki bogel, pernah main dengan dirinya dan sebagainya. Semuanya dia masih belum pernah lakukan. Aku semakin berani. Tangan kiri ku mula memegang peha Nadirah sambil mengusapnya. Kerana dia tidak melawan, aku semakin berani. Tangan aku sudah berani merayap ke bawah skirt yang Nadirah pakai. Sampai saja di kawasan kemaluannya, aku terus mengusap lembut. Mungkin kerana tersentak, Nadirah menjerit. Aku memujuknya dengan mengatakan yang aku tidak akan sakitkan dia, malahan Cuma ingin memberikan sedikit keseronokkan kepada dia.

Yang aku pasti, dia tidak melawan apabila jari telunjuk ku merayap masuk ke dalam pantiesnya. Dari sentuhan jari aku, aku buat pengagakan yang kemaluan dia masih lagi bersih dan belum pernah disentuh. Kemaluan aku sudah semakin tegang dan tanpa berfikir panjang lagi, aku terus melencong ke sebuah taman di bandar P. Aku hanya beritahu Nadirah yang aku nak berehat sebentar sebab letih.

Di taman, aku terus mengajak Nadirah berjalan-jalan sambil mata aku memerhati sekeliling,
mencari tempat yang selamat dan tersorok dari pandangan orang. Mungkin aku bernasib baik kerana kawasan itu masih sunyi…
maklumlah masih lagi tengahari. Sampai di sebalik rumpun buluh yang tinggi, aku terus mendakap Nadirah sambil mencium dahinya.

“Abang sayang Nadirah,” kata ku sambil Nadirah tersenyum dengan gerak laku aku.

Walaupun dia tergamam seketika semasa aku mengangkat skirtnya, Nadirah langsung tidak membuat apa apa. Apabila mata ku terpandang pada panties merah jambunya, aku semakin geram. Aku terus melondehkan pantiesnya dan terus menyuruh nadirah baring di atas tanah. Dia lakukan tanpa banyak soal. Dengan lembut aku mengangkangkan kakinya dan terus menjilat kemaluannya. Benarlah apa yang aku sangkakan, hanya sedikit saja rambut yang ada. Itupun masih halus. Walapun tidak sama macam perempuan yang lebih matang semasa dalam keadaan ini, aku sendiri dapat merasakan nafas Nadirah semakin kencang. Cuma tak ada sebarang rengekan yang aku dengar.

Bila aku rasa yang kemaluannya sudah semakin basah dengan air liur ku, aku terus membuka zip seluar ku dan tanpa melondehkan seluar, aku terus keluarkan kemaluan ku. Aku halakan ke arah kemaluan Nadirah dan ku cuba untuk memasukkannya. Mungkin kerana inilah kali pertama, hanya kepala saja yang dapat aku masukkan. Dengan perlahan-
lahan aku terus menolak sehingga ianya masuk, walaupun tidaklah sepenuhnya. Nadirah mengerut mukanya sambil mengaduh sakit. Aku Cuma nasihatkan dia agar dapat menahan kerana ianya sedap. Dengan penuh kepayahan, kerana ketat sangat, aku terus mendayung. Sesekali terdengar juga Nadirah mendengus sedikit. Aku semakin melajukan dayungan.

“Nadirah dah period ke belum,” tanya aku, dan ini hanya dijawab dengan gelengan kepalanya.

Ini sudah bagus aku rasa. Aku rasa selamat untuk aku memancut ke dalam memandangkan yang dia masih belum period dan oleh itu tak mungkin dia akan mengandung. Mungkin kerana ketat sangat, aku tidak dapat nak bertahan lama dan terus memancutkan air ku ke dalam kemaluan Nadirah. Setelah puas, aku menarik keluar kemaluan aku sambil mata ku tertumpu pada kemaluan Nadirah yang merah padam. Lelehan air ku keluar dari celah kemaluannya sampai membasahi lubang duburnya. Tanpa berfikir panjang, aku terus merapatkan kepala ku dan menjilat kemaluannya serta air aku sendiri.

Itulah kali pertama aku melakukannya dengan Nadirah. Dan itu bukanlah kali terakhir kerana aku masih melakukannya dengannya apabila ada peluang, sehingga aku sudah berani membawanya ke hotel untuk melakukannya. Nadirah sudah semakin berani, mungkin kerana apa yang aku ajarkan pada dia supaya aku sendiri akan lebih seronok untuk melakukannya dengannya. Tapi semuanya tidak kekal kerana mungkin kesilapan, Nadirah akhirnya mengandungkan anak aku. Dalam usia 14 tahun dia sudah mengandung. Mujurlah dia tidak mendedah rahsia kepada sesiapa walaupun ibubapanya tahu mengenainya.

Apa yang aku dengar, hari ini Nadirah masih lagi di pusat pemulihan akhlak. Dan dari apa yang aku dengar, dia masih lagi melakukan semua ini. Tapi bukanlah dengan aku tapi dengan warder yang menjaga pusat itu. Aku tak tahulah benar atau tidak. Yang aku pasti, aku masih lagi begini. Masih memerhatikan sekeliling untuk mencari anak dara untuk melakukan semua ini. Janda atau perempuan yang sebaya dengan aku? Entahlah, tak ada minat sungguh, lebih lebih lagi mereka yang banyak bulu kemaluan. Tak seronok kalau tak dapat alurnya

Cerita X218

Sari, anak kost baru

Walaupun bulan ini penuh dengan kesibukanku, aku termasuk orang yang sangat susah untuk dapat mengontrol keinginan seks atas wanita. Pengalaman ini kualami beberapa hari sebelum bulan-bulan sibukku yang lalu di tempat kost. Di tempat kost kami berlima dan hanya ada satu-satunya cewek di kost ini, namanya Sari. Aku heran ibu kost menerima anak perempuan di kost ini. Oh, rupanya Sari bekerja di dekat kost sini.

Sari cukup cantik dan kelihatan sudah matang dengan usianya yang relatif sangat muda, tingginya kira-kira 160 cm. Yang membuatku bergelora adalah tubuhnya yang putih dan kedua buah dadanya yang cukup besar. Ahh, kapan aku bisa mendapatkannya, pikirku. Menikmati tubuhnya, menancapkan penisku ke vaginanya dan menikmati gelora kegadisannya.

Perlu pembaca ketahui, umurku sudah 35 tahun. Belum menikah tapi sudah punya pacar yang jauh di luar kota. Soal hubungan seks, aku baru pernah dua kali melakukannya dengan wanita. Pertama dengan Mbak Anik, teman sekantorku dan dengan Esther. Dengan pacarku, aku belum pernah melakukannya. Swear..! Beneran.

Kami berlima di kost ini kamarnya terpisah dari rumah induk ibu kost, sehingga aku dapat menikmati gerak-gerik Sari dari kamarku yang hanya berjarak tidak sampai 10 meter. Yang gila dan memuncak adalah aku selalu melakukan masturbasi minimal dua hari sekali. Aku paling suka melakukannya di tempat terbuka. Kadang sambil lari pagi, aku mencari tempat untuk melampiaskan imajinasi seksku.

Sambil memanggil nama Sari, crot crot crot.., muncratlah spermaku, enak dan lega walau masih punya mimpi dan keinginan menikmati tubuh Sari. Aku juga suka melakukan masturbasi di rumah, di luar kamar di tengah malam atau pagi-pagi sekali sebelum semuanya bangun. Aku keluar kamar dan di bawah terang lampu neon atau terang bulan, kutelanjangi diriku dan mengocok penisku, menyebut-nyebut nama Sari sebagai imajinasi senggamaku. Bahkan, aku pernah melakukan masturbasi di depan kamar Sari, kumuntahkan spermaku menetesi pintu kamarnya. Lega rasanya setelah melakukan itu.

Sari kuamati memang terlihat seperti agak binal. Suka pulang agak malam diantar cowok yang cukup altletis, sepertinya pacarnya. Bahkan beberapa kali kulihat suka pulang pagi-pagi, dan itu adalah pengamatanku sampai kejadian yang menimpaku beberapa hari sebelum bulan itu.

Seperti biasanya, aku melakukan masturbasi di luar kamarku. Hari sudah larut hampir jam satu dini hari. Aku melepas kaos dan celana pendek, lalu celana dalamku. Aku telanjang dengan Tangan kiri memegang tiang dan tangan kanan mengocok penisku sambil kusebut nama Sari. Tapi tiba-tiba aku terhenti mengocok penisku, karena memang Sari entah tiba-tiba tengah malam itu baru pulang.

Dia memandangiku dari kejauhan, melihat diriku telanjang dan tidak dengan cepat-cepat membuka kamarnya. Sepertinya kutangkap dia tidak grogi melihatku, tidak juga kutangkap keterkejutannya melihatku. Aku yang terkejut.

Setelah dia masuk kamar, dengan cuek kulanjutkan masturbasiku dan tetap menyebut nama Sari. Yang kurasakan adalah seolah aku menikmati tubuhnya, bersenggama dengannya, sementara aku tidak tahu apa yang dipikirkannya tentangku di kamarnya. Malam itu aku tidur dengan membawa kekalutan dan keinginan yang lebih dalam.

Paginya, ketika aku bangun, sempat kusapa dia.
“Met pagi..” kataku sambil mataku mencoba menangkap arti lain di matanya.
Kami hanya bertatapan.

Ketika makan pagi sebelum berangkat kantor juga begitu.
“Kok semalam sampai larut sih..?” tanyaku.
“Kok tak juga diantar seperti biasanya..?” tanyaku lagi sebelum dia menjawab.
“Iya Mas, aku lembur di kantor, temenku sampai pintu gerbang saja semalam.” jawabnya sambil tetap menunduk dan makan pagi.
“Semalam nggak terkejut ya melihatku..?” aku mencoba menyelidiki.
Wajahnya memerah dan tersenyum. Wahh.., serasa jantungku copot melihat dan menikmati senyum Sari pagi ini yang berbeda. Aku rasanya dapat tanda-tanda nih, sombongnya hatiku.

Rumah kost kami memang tertutup oleh pagar tinggi tetangga sekeliling. Kamarku berada di pojok dekat gudang, lalu di samping gudang ada halaman kecil kira-kira 30 meter persegi, tempat terbuka dan tempat untuk menjemur pakaian. Tanah ibu kostku in cukup luas, kira-kira hampir 50 X 100 m. Ada banyak pohon di samping rumah, di samping belakang juga. Di depan kamarku ada pohon mangga besar yang cukup rindang.

Rasanya nasib baik berpihak padaku. Sejak saat itu, kalau aku berpapasan dengan Sari atau berbicara, aku dapat menangkap gejolak nafsu di dadanya juga. Kami makin akrab. Ketika kami berbelanja kebutuhan Puasa di supermarket, kukatakan terus terang saja kalau aku sangat menginginkannya. Sari diam saja dan memerah lagi, dapat kulihat walau tertunduk.

Aku mengajaknya menikmati malam Minggu tengah malam kalau dia mau. Aku akan menunggu di halaman dekat kamarku, kebetulan semua teman-teman kostku pulang kampung. Yang satu ke Solo, istrinya di sana, tiap Sabtu pasti pulang. Yang satunya pulang ke Temanggung, persiapan Puasa di rumah.

Aku harus siapkan semuanya. Kusiapkan tempat tidurku dengan sprei baru dan sarung bantal baru. Aku mulai menata halaman samping, tapi tidak begitu ketahuan. Ahh, aku ingin menikmati tubuh Sari di halaman, di meja, di rumput dan di kamarku ini. Betapa menggairahkan, seolah aku sudah mendapat jawaban pasti.

Sabtu malam, malam semakin larut. Aku tidur seperti biasanya. Juga semua keluarga ibu kost. Aku memang sudah nekat kalau seandainya ketahuan. Aku sudah tutupi dengan beberapa pakaian yang sengaja kucuci Sabtu sore dan kuletakkan di depan kamarku sebagai penghalang pandangan. Tidak lupa, aku sudah menelan beberapa obat kuat/perangsang seperti yang diiklankan.

Tengah malam hampir jam setengah satu aku keluar. Tidak kulihat Sari mau menanggapi. Kamarnya tetap saja gelap. Seperti biasa, aku mulai melepasi bajuku sampai telanjang, tangan kiriku memegangi tiang jemuran dan tangan kananku mengocok penisku. Sambil kusebut nama Sari, kupejamkan mataku, kubayangkan sedang menikmati tubuh Sari. Sungguh mujur aku waktu itu. Di tengah imajinasiku, dengan tidak kuketahui kedatangannya, Sari telah ada di belakangku.

Tanpa malu dan sungkan dipeluknya aku, sementara tanganku masih terus mengocok penisku. Diciuminya punggungku, sesekali digigitnya, lalu tangannya meraih penisku yang menegang kuat.
“Sari.. Sari.. achh.. achh.. nikmatnya..!” desahku menikmati sensasi di sekujur penisku dan tubuhku yang terangkat tergelincang karena kocokan tangan Sari.
“Uhh.. achh.. Sari, Sari.. ohh.. aku mau keluar.. ohh..” desahku lagi sambil tetap berdiri.

Kemudian kulihat Sari bergerak ke depanku dan berlutut, lalu dimasukkannya penisku ke mulutnya.
“Oohh Sari.. Uhh Sarii.., Saarrii.. Nikmat sekali..!” desahku ketika mulutnya mengulumi penisku kuat-kuat.
Akhirnya aku tidak dapat menahannya lagi, crott.. crot.. crot.., spemaku memenuhi mulut Sari, membasai penisku dan ditelannya. Ahh anak ini sudah punya pengalaman rupanya, pikirku.

Lalu Sari berdiri dengan mulut yang masih menyisakan spermaku, aku memeluknya dan menciuminya. Ahh.., kesampaian benar cita-citaku menikmati tubuhnya yang putih, lembut, sintal dan buah dadanya yang menantang.

Kulumati bibirnya, kusapu wajahnya dengan mulutku. Kulihat dia memakai daster yang cukup tipis. BH dan celana dalamnya kelihatan menerawang jelas. Sambil terus kuciumi Sari, tanganku berkeliaran merayapi punggung, dada dan pantatnya. Ahh.. aku ingin menyetubuhi dari belakang karena sepertinya pantatnya sangat bagus. Aku segera melepaskan tali telami dasternya di atas pundak, kubiarkan jatuh di rumput.

Ahh.., betapa manis pemandangan yang kulihat. Tubuh sintal Sari yang hanya dibalut dengan BH dan celana dalam. Wahh.., membuat penisku mengeras lagi. Kulumati lagi bibirnya, aku menelusuri lehernya.
“Ehh.., ehh..!” desis Sari menikmati cumbuanku.
“Ehh.., ehh..!” sesekali dengan nada agak tinggi ketika tanganku menggapai daerah-daerah sensitifnya.

Kemudian kepalanya mendongak dan buah dadanya kuciumi dari atas. O my God, betapa masih padat dan montok buah dada anak ini. Aku mau menikmatinya dan membuatnya mendesis-desis malam ini. Tanganku yang nakal segera saja melepas kancing BH-nya, kubuang melewati jendela kamarku, entah jatuh di mana, mungkin di meja atau di mana, aku tidak tahu. Uhh.., aku segera memandangi buah dada yang indah dan montok ini. Wah luar biasa, kuputari kedua bukitnya. Aku tetap berdiri. bergantian kukulumi puting susunya. Ahh.., menggairahkan.

Terkadang dia mendesis, terlebih kalau tangan kananku atau kiriku juga bermain di putingnya, sementara mulutku menguluminya juga. Tubuhnya melonjak-lonjak, sehingga pelukan tangan kanan atau kiriku seolah mau lepas. Sari menegang, menggelinjang-gelinjang dalam pelukanku. Lalu aku kembali ke atas, kutelusuri lehernya dan mulutku berdiam di sana. Tanganku sekarang meraih celana dalamnya, kutarik ke bawah dan kubantu melepas dari kakinya. Jadilah kami berdua telanjang bulat.

Kutangkap kedua tangan Sari dan kuajak menjauh sepanjang tangan, kami berpandangan penuh nafsu di awal bulan ini. Kami sama-sama melihat dan menjelajahi dengan mata tubuh kami masing-masing dan kami sudah saling lupa jarak usia di antara kami. Penisku menempel lagi di tubuhnya, enak rasanya. Aku memutar tubuhnya, kusandarkan di dadaku dan tangannya memeluk leherku.

Kemudian kuremasi buah dadanya dengan tangan kiriku, tangan kananku menjangkau vaginanya. Kulihat taman kecil dengan rumput hitam cukup lebat di sana, lalu kuraba, kucoba sibakkan sedikit selakangannya. Sari tergelincang dan menggeliat-geliat ketika tanganku berhasil menjangkau klitorisnya. Seolah dia berputar pada leherku, mulutnya kubiarkan menganga menikmati sentuhan di klitorisnya sampai terasa semakin basah.

Kubimbing Sari mendekati meja kecil yang kusiapkan di samping gudang. Kusuruh dia membungkuk. Dari belakang, kuremasi kedua buah dadanya. Kulepas dan kuciumi punggungnya hingga turun ke pantatnya. Selangkangannya semakin membuka saja seiring rabaanku.

Setelah itu aku turun ke bawah selakangannya, dan dengan penuh nafsu kujilati vaginanya. Mulutku menjangkau lagi daerah sensitif di vaginanya sampai hampir-hampir kepalaku terjepit.
“Oohh.., ehh.., aku nggak tahan lagi.., masukkan..!” pintanya.

Malam itu, pembaca dapat bayangkan, aku akhirnya dapat memasukkan penisku dari belakang. Kumasukkan penisku sampai terisi penuh liang senggamanya. Saat penetrasi pertama aku terdiam sebelum kemudian kugenjot dan menikmati sensasi orgasme. Aku tidak perduli apakah ada yang mendengarkan desahan kami berdua di halaman belakang. Aku hanya terus menyodok dan menggenjot sampai kami berdua terpuaskan dalam gairah kami masing-masing.

Aku berhasil memuntahkan spermaku ke vaginanya, sementara aku mendapatkan sensasi jepitan vagina yang hebat ketika datang orgasmenya. Aku dibuatnya puas dengan kenyataan imajinasiku malam Minggu itu. Sabtu malam atau minggu dini hari yang benar-benar hebat. Aku bersenggama dengan Sari dalam bebrapa posisi. Terakhir, sebelum posisi konvensioal, aku melakukan lagi posisi 69 di tempat tidur.

Ahh Sari, dia berada dalam pelukanku sampai Minggu pagi jam 8 dan masih tertidur di kamarku. Aku bangun duluan dan agak sedikit kesiangan. Ketika melihat ke luar kamar, ohh tidak ada apa-apa. Kulihat kedua cucu ibu kostku sedang bermain di halaman. Mereka tidak mengetahui di tempat mereka bermain itu telah menjadi bagian sejarah seks hidupku dan Sari.

Pembaca, itulah pengalamanmu dengan Sari di kost. Aku sudah dua malam Minggu bersamanya. Betapa hebat di bulan ini. Aku bisa, aku bisa.. dan mau terus berburu lagi. Ahh.., hidup memang menggairahkan dengan seks, dengan wanita. Hanya, aku harus super selektif memilihnya. Semoga pengalamanku ini berguna buat sobat muda.

TAMAT

Cerita Dewasa seks | Foto Bugil